FF/REMEMBER/04

Title      : /Remember/04/

Genre   : Apa ajalah suka2

Author  : Song Hae Yoo

Length  : Sequel

Rating : General

 

Main Cast : Han Yun Ji

Kim Kibum

Support Cast : Other SHINee Member

Park Sun Young

E.t.c

A.N : Mian kalo istilah2 disini pasaran. Karena sejujurnya aku tak sanggup *halah, apadeh* sejujurnya, istilah2nya kubrowsing di i-net XPP

 

~YunJi POV~

“Annyeong YunJi-ah” seru sebuah suara bariton membuatku bergidik “kami mengganggu?” Tanya orang itu lagi sambil tersenyum. Begitupula orang yang berada di sebelahnya. Jonghyun

“Ada perlu apa kalian kemari?” tanyaku dingin tentu saja berpura-pura dingin. Jonghyun hanya menyeringai lalu menarik tangan kananku

“Benar hyung. Lihat!” seru Jonghyun lalu menunjukkan garis hitam ditanganku. Aku menarik tanganku, apa? Apa yang benar?

“Sepertinya kami terlambat oleh Krystal, tapi biarlah… Yang penting kami sudah menemukanmu, Han YunJi…” seru suara bariton itu lagi lalu tersenyum, “ikut kami!” serunya sambil menarikku.

BLUSHH
Tiba-tiba disekitar kami berada di depan sebuah kastil tua, dengan 4 menara yang sudah tak terurus. Benar-benar mengagumkan.

“Nona, seharusnya kau tidak terlalu banyak bergaul dengan faery,” seru jonghyun membuatku memandangnya bingung. Faery? Apa itu?

“Manusia. Manusia tanpa kelebihan itu adalah faery nona… Manusia yang membantu-Nya melawan kita. Dengan kata lain, faery adalah musuh kita. Dan Mortal tidak boleh berteman dengan faery terlalu jauh.” Jelas namja dengan suara baritone tadi yang sekarang kutahu namanya Jinki. Hei! Bukankah mereka member SHINee?? Tanyaku bingung

“Dan biar kutebak… Kalian dan –aku, mortal?” tanyaku bingung bercampur ragu, mereka hanya tersenyum dan menggeleng.

Mortal hanya ada 2 dari setiap kerajaan. Dan disini ada 4 kerajaan, Kerajaan utara, barat, timur, dan Selatan. Kita ada di tengah-tengah kerajaan selatan  dan barat, namun semenjak ahli waris sebelumnya, kerajaan kita bisa maju sendiri dan ditakuti dengan kerajaan-kerajaan lain –termasuk kerajaan utara. Namun sayang kerajaan kita –kerajaan agung- selalu dianggap musuh…-“

“So?” tanyaku mulai bosan, Jonghyun berdeham pelan dan mengambil ahli

“Kami fey, pengawal kerajaan. Pengawal mortal. Dan kau adalah mortal-nya Han YunJi. Atau bisa kami panggil Sonchav.. Mortal kerajaan agung.” Ujarnya sambil berlutut di hadapanku. Aku melotot kaget. Bukan karena perlakuannya tapi karena perkataannya. Aku? Seorang mortal?

“Jangan bercanda! K-k-kau pikir kau bisa membohongiku?! Ak-aku tahu kalian adalah member-member SHINee kan?” kataku sambil melangkah mundur. Jinki hanya tersenyum

“Hanya mortal Kerajaan Agung yang dapat membuka buku itu. Buku yang telah diikat oleh darah Sorcartv… Mortal sebelummu.” Ujar Jinki. Seringaian tercetak jelas di bibir tipisnya. Aku menatap buku yang ada digenggamanku sekarang. Ini hanya sebuah buku tua dengan sampul dari kulit hitam dan ditutup dengan… dengan… dengan c-cap me-rah?

“Hehehe… Hyung, walau kau sangat agresif, sepertinya ucapanmu berpengaruh. Dan melihat wajahmu yang pucat ini, sebaiknya kita pulang.” Seru Jonghyun lalu detik berikutnya kami sudah berada di kamarku “lebih hebat dari pintu ajaib doraemon bukan?” guraunya lalu menghilang. Tentu saja dalam hitungan detik.

***

OK. Aku mulai bingung. Apa hubungannya, kerajaan, mortal, fey dengan Krystal? Dan… mengapa aku tiba-tiba terlibat ini? Kenapa aku harus melihat masa lalu Krystal? Dan ada dimana dia? Kenapa dari tadi dia tidak menghantuiku dengan kenangan-kenangan masa lalunya yang pahit itu?

“Krystal, itukah kau?” tanyaku saat mendengar gemeresak ranting di dekat jendelaku, namun saat kusibakkan gorden yang menghalangi, itu hanya suara ranting dan angin yang menandakan sebentar lagi hujan turun. Dan, hey! Kenapa aku malah berharap dihantui olehnya? Aku berharap menemui hantu? Waw… That’s funny!!

“Uughh!” tiba-tiba aku merasakan kepalaku berdenyut-denyut hebat. Ada apa ini?

“YunJi!! Ada temanmu datang…” seru umma dari luar, aku hanya menggumam pelan dan berusaha terlihat cerah. Kuturuni tangga dan melihat ada Key, Minho, Jonghyun, Jinki, serta Jesicca. Sesaat aku merasakan sakit kepala yang luar biasa. Kulihat Minho dan Jonghyun terus tersenyum kepadaku.

“H-hai…” kataku serak. Jesicca tersenyum. Aku membalas senyumnya dan tersenyum ke semuanya

“Kau sakit?” tanyanya sambil menyentuh dahiku. Seketika aku merasa sebuah sengatan di dahiku. Segera kutepis tangannya dan memekik kecil. Minho yang terkejut dengan perlakuanku hanya membesarkan matanya tanda terkejut. Sementara Jonghyun tersenyum kepada Jinki dan berbisik ‘sudah bekerja’

Dan sekarang ada satu pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan. Mengapa harus aku yang menjadi seorang mortal?

“Sepertinya dia sedang tidak enak badan, lebih baik kita biarkan saja dulu. Biar dia bisa istirahat. Dan lagipula, tidak enak meninggalkan Taemin sendirian di dorm terlalu lama. Aku takut dia marah” sahut Jesicca mencoba mencairkan keadaan. Aku hanya tersenyum dipaksakan dan mengangguk. Akhirnya dengan berat hati –sepertinya sih, mereka meninggalkan rumah umma, dan aku sendirian. Setidaknya sampai aku mendapatkan sebuah jawaban yang masuk logika dari pertanyaanku tadi.

“Umma… Buatkan aku teh dong, sepertinya aku terkena flu.” Ujarku sambil menggosokan hidungku. 15 menit kemudian umma datang dan membawakanku teh hijau hangat serta beberapa camilan. Namun apes, karena umma tersandung dan oleng “Stooooooooooooopppp!” teriakku sambil menutup mata, berusaha melindungi mataku dari siraman teh hangat itu. 1 detik, 2 detik, 3 detik, tak kurasakan basah sedikitpun di tubuhku, dengan perlahan aku membuka mataku, dan kulihat umma yang terlihat oleng, makanan yang melayang. Serta tumpahan air teh yang seolah membeku. Walau sedikit bingung, aku memungut camilan itu kembali ke piring, teh kumasukkan lagi ke gelas, umma ku dirikan kembali, lalu setelah aku merasa tidak ada yang pecah ataupun terluka, aku menutup mataku lagi

“YunJi awaaas~~!” teriak umma bingung, aku sudah berada di kasurku sementara umma masih di depan pintu kamarku.

“Awas kenapa umma?” aku terkekeh, sementara umma hanya menggeleng-geleng tanda tak mengerti.

Hem… Kurasa aku mulai menyukai ini.

***

Hari ini Jonghyun dan Jinki datang lagi ke kamarku. Lagi-lagi mengajakku ke kastil tua itu –kerajaan agung-ku. Tapi entah mengapa aku tak pernah nyaman berada di sini.

“Mungkin kau belum terbiasa nona. Tapi aku yakin, sebentar lagi kau pasti terbiasa.” Seru Jonghyun lalu mengeluarkan seringaiannya lagi. Begitu pula Jinki.

Hey! Bisa kalian berhenti? Ini membuatku mual. Heuh~

~YunJi POV End~
~Minho POV~

Hari ini aku berkunjung lagi ke rumah PhilSuk. Hari ini Key sedang pergi dengan Jesicca, Onew dan Jonghyun hyung, entahlah… mereka pergi kemana. Sementara Taemin, dia sekolah sampai malam nanti.

Heuh, Terkadang aku merindukan pergi ke kampus.

“Annyeong haseyo, PhilSuk-nya ada?” tanyaku sopan, namun ibunya PhilSuk hanya menatapku bingung, aku mengulang pertanyaanku “PhilSuk-nya…”

“Tidak ada yang bernama PhilSuk di sini. Adanya YunJi. Han YunJi.” Seru ibunya lalu membuatku melotot, sesaat otak sebelah kananku terasa kaku –atau mungkin keram? Entahlah, rasa sakit ini membuatku malas untuk berpikir…

“AAARRGHH~” teriakku saat sesuatu seperti ‘menggerogoti’ otak kananku, lalu terakhir kulihat adalah 3 sosok yang kukenal. Onew hyung, Jonghyun hyung, dan … entahlah, semua sudah gelap.

***

“Uuugh~” desahku saat membuka kedua kelopak mataku, langit-langit berwarna putih dan bau obat yang menusuk masuk ke dalam hidungku, membuatku berpikir pasti ini bukan dorm. Tapi pasti ini rumah sakit.

“Hyung kau sudah bangun?” tanya Taemin dengan mata sembabnya. Aigoo~ terkadang aku bingung, sebenarnya Taemin itu namja atau yeoja? Kenapa perasaannya sensitive sekali?

“N-ne Tae, gwaenchanayo.” Ujarku sambil tersenyum, dia balas tersenyum dan keluar. Beberapa detik kemudian terdengar suara gaduh diluar, dan diikuti kemunculan 7 wajah yang sangat familiar menurutku.

“Aigoo! Minho! Kau ceroboh sekali… Kenapa kau bisa pingsan di depan…” papar Key hyung, yang tidak kudengar sepenuhnya, karena sekarang perhatianku tercurah seutuhnya ke seorang yeoja yang sepertinya sangat mencemaskan keadaanku.

“YunJi-ah” panggilku serak namun berhasil membuat Key mengunci mulutnya. Berhasil membuat ruangan ini sunyi senyap “ap-apa kabar? Chagy?” tanyaku sedikit ragu karena bukannya senang, YunJi malah hanya menatapku bingung, lalu menatap Onew hyung dan Jonghyun hyung bergantian.

“A-a-ah, annye-annyeong Minho-ssi” serunya sambil membungkukan tubuh.

Melihat ini Key menarik hyung-hyungku dan Taemin –beserta manager yang sadar diri- untuk keluar dan memberikanku dan YunJi sebuah ruang prifacy. Aku bangun untuk duduk dan menepuk-nepukankasur di sebelah kananku –bermaksud untuk menyuruh YunJi duduk di sini. Namun sepertinya YunJi tidak menyadari karena akhirnya dia mengambil kursi didekatku dan duduk disana *wah so deep be-ge-te itumah*

“Mwo?” tanyanya sedikit ketus, apa dia marah? Aku meraih tangannya, namun dia menepisnya. Aku menatapnya sebentar –walau dia tidak menatapku- aku memejamkan mataku dan menghembuskan nafasku pelan, berusaha menurunkan emosiku yang sudah naik. Lalu menarik tangannya lagi.

“Naega… Mianhaeyo~”*lirik.com XD* ucapku lirih, aku beranjak dari kasurku dan berlutut di hadapannya, berusaha mendapat kontak mata dengannya. “Mianhae… Aku, aku, aku tidak tahu kau akan percaya atau tidak. Namun saat aku sedang training, terjadi sebuah kecelakaan kecil, dan aku melupakan sebagian ingatanku. Sungguh! Aku tidak ingin melupakanmu hanya saja~” aku mengeratkan genggamanku ditangannya. Dia masih memalingkan wajahnya dari wajahku.

“A-aku…” jawabnya. Aku masih memandangnya penuh harap. Sambil terus memanjatkan doa. Berharap dia memaafkanku karena aku telat menemuinya. Bahkan aku tak merayakan ulang tahunnya bersamaku. Akhirnya setelah beberapa lama hening, diapun menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum, dan seketika –rasanya seluruh sakit di tubuhku hilang. Aku tersenyum, mengeluarkan seluruh karismaku. Berusaha membuatnya tidak berpikir untuk merubah jawabannya *tenang Ho, gua bakalan setia ko milih lo XD*

***

“Jadi kau sudah ingat semuanya Minho?” tanya Key sambil menatapku was-was, aku mengangguk sekuat tenaga. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala “bagaimana bisa kau dibilang flaming charisma tapi berkelakuan seperti anak kecil? Menyedihkan sekali…” serunya mencemooh. Aku hanya mencibir pelan dan menatap kedua hyung-ku

“Hyung, kalian tadi ke rumah YunJi kan? Ada apa?” tanyaku, tiba-tiba YunJi, Onew dan Jonghyun hyung tersentak. Aku, Key Hyung, Taemin dan Manager menatap mereka terus, hingga akhirnya Onew hyung mengambil alih pembicaraan

“Ehm.. Se-sebenarnya, Ibunya YunJi, pelanggan setia tokoku, dan kemarin aboeji menyuruhku mengirim beberapa daging untuk ucapan terima kasihnya. D-dan, aku meminta Jonghyun mengantarku.”

“Kenapa Jonghyun? Bukankah kau selalu memaksaku? Bahkan saat aku berkencan dengan Sicca.” Kali ini Key yang berbicara. Sekilas aku melihat bayangan seorang yeoja yang tersenyum sinis diantara Onew dan Jonghyun hyung. Aku menajamkan penglihatanku, tiba-tiba yeoja itu semakin jelas dan berkata…

“Minho! Kau kenapa?” teriak YunJi membuatku kembali ke alam sadarku.

“Eh? Mwo? G-gwaenchana…” kataku. “Sudahlah, lebih baik kita pulang.”

***

S**t! Sejak ‘penampakan’ di rumah sakit itu, aku tidak bisa melupakan wajahnya sama sekali. Masa iya aku benaran melihat hantu? Walau memang aku pernah ingin sekali melihat hantu. Tapi… yah, aku tidak pernah berharap itu membuatku sangat penasaran seperti sekarang, bukan ketakutan seperti orang-orang bilang *anjrit, Minho strong euy! XD*

‘Minho…’ panggil sebuah suara, suara seorang yeoja. Aku membalikkan badanku ke arah jendela. ‘Sesosok’ yeoja yang kutemui di rumah sakit itu melayang-layang di tengah jendela kamarku. ‘boleh aku masuk?’ tanyanya serak. Tiba-tiba, seperti tersihir aku membukakan jendelaku dengan patuh. Lalu dia masuk dan melayang-layang, membuatku kagum. Untungnya wajahnya tidak cacat sedikitpun, bagian tubuhnya –pun masih lengkap, hanya kebiasaan melayangnya membuatku menyadari kalau dia tidak berada di duniaku.

‘Apa kabar Mortal Kerajaan Utara?’ ujarnya santai sambil tersenyum. Aku menatapnya bingung. Apa maksudnya? ‘Minho~ Kapan kau pulang huh? Ratumu sudah kewalahan dengan sikapku. Ha-ha-ha-‘ ujarnya lagi. Membuatku makin mengerutkan dahi. ‘Tapi tenang saja. Fey mu akan selalu menjaganya. Dan aku… Karena kurasa aku menyukaimu. Aku akan mengganggu Mortal kerajaan Agung itu sementara. Sampai kau siap dan berani melawannya’ ujarnya sambil terbang mengelilingi kamarku.

“Tunggu! Apa maksudmu dengan Mortal? Fey? Dan Kerajaan? Dan siapa lawanku yang akan kau ganggu?” tanyaku beruntun. Yeoja itu tertawa sinis “dan… Nuguya?” tanyaku saat menyadari aku tidak mengenalnya sama sekali.

‘Apakah aku harus memperkenalkan diriku dulu? Choneun Krystal Jung Imnida. Fey perang kerajaan Kegelapan. Fey perang saudaramu, Choi Sooyoung dan Choi Minseok*aduh makin banyak aja castnya*.’ AKu menyerenyitkan dahiku. Minseok hyung? Apakah itu benar?
Aku berusaha menanyakan informasi lebih lanjut, namun kulihat jendelaku telah terbuka dan dia sudah menghilang. Yeoja yang aneh!

***

“Minho.. Hhhhh.. Aku sudah putus dengannya” seru Key saat berpapasan denganku. Aku yang memang terbiasa minum air setelah bangun tidur hampir saja memuncratkan air putih yang baru saja ingin masuk ke dalam kerongkonganku.

“Mwo? Bukankah kalian saling mencintai?” tanyaku sambil mengusap bibrku. Key mencibir kesal, dia mengambil gelas dan mengisi dengan air

“Mollayeo! Dia selalu mrngajakku untuk menemui adiknya yang sudah meninggal.. K-kry-kris,”

“Krystal?” tanyaku, Key menaikkan alis kanannya. “A-a-ku, aku hanya menebaknya.” tambahku lagi, Key semakin menaikkan alis sebelah kanannya. “Ya! Wae?!” tanyaku, tanpa kusadari, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat

“Darimana kau tau Krystal? Dan, Hei! Sejak kapan kau menggigit bibir seperti itu? Minho?!” tanyanya sedikit cemas, aku tersentak saat merasakan perih di bibirku.

“Gwaenchana, hyung. A-aku, tiba-tiba aku mengantuk!” akupun pergi tanpa mendengarkan jawabannya lagi.

***
‘Minho, gwaenchana?’ tanyanya sambil menyentuh pipiku, sesaat aku merasa ada sengatan kecil di dalam aliran darahku.

“Ne. Gwaenchana” seruku lalu menepis tangannya. Tangannya hangat sekali. Aku menatap matanya. “Krystal, apa… kau tidak merindukan kehidupan sebagai manusia?” tanyaku tiba-tiba. Entah mengapa, aku merindukan kehidupanku sebagai manusia. Manusia biasa… Merindukan saat-saat aku duduk berdua dengan YunJi. Hei! Bahkan aku sudah lama tidak mencari tahu kabar YunJi. Kenapa kau belum menghubungiku juga?
‘Jangan pikirkan dia lagi! Bisakah kau melupakannya?!’ seru Krystal tiba-tiba, aku tersentak. ‘Jangan … Pikirkan… Dia… Lagi!’ seru Krystal lagi, kali ini dengan penekanan di tiap katanya.

K-Kristal?? Ada apa ini? Kenapa tubuhnya tiba-tiba diselubungi cahaya keemasan? Dan kenapa aku merasa ini adalah bahaya?
~Minho POV End~
~YunJi POV~

Aku menatap televisi malas. Baru saja SHINee menyelesaikan perform-nya. Baru saja aku melihat ketampanan namjachinguku –setidaknya begitu-. Tapi aku tidak merasa apa-apa. Maksudku, yaah setelah mendengar bahwa aku dan Minho tak kan pernah bisa bersatu, tiba-tiba perasaanku padanya hilang. Aku tak lagi mengharapkannya, menginginkannya. Kenapa ya?

SIIIIIIINNNGG~

“Aaargh! Apha! Jinjja! Apa yang terjadi?” sungutku sambil memegang kepalaku, rasa sakit yang menjalar begitu cepap, menghilang begitu cepat juga. DEG! Eh? Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri? Kenapa tiba-tiba aku merasakan takut eoh? “U..um…ummaa~” panggilku pelan, rasanya aku sudah tak dapat bernafas lagi. Dadaku sesak sekali. “Um-ummaa~” BRUGG.. Aku terjatuh karena sudah tak kuat menopang tubuhku sendiri. Mataku sudah berkunang-kunang, aku mencoba mengkedipkan mataku atau memukul kepalaku pelan, namun rasa sakit dan takut itu semakin besar. Pandanganku sudah sangat kabur. Namun aku masih dapat melihat dua bayangan di depanku. Bayangan Minho yang ketakutan, dan bayangan Krystal yang tersenyum sinis ke arahku. Senyum yang sama dengan senyum yang dia berikan kepada adik yang dia tukar dengan dua kardus susu. Senyum itu… Senyum yang kulihat 14tahun yang lalu. Mwo? Andwae! Maldo Andwae! Ada apa denganku? Kenapa sampai aku berpikir kalau dia onnieku? Onnie kejam yang membuangku? Anio. Anio. Anio. Itu tidak mungkin! Batinku lalu menggeleng-gelengkan kepalaku “K-kenapa kau kemari Krystal?!!” tanyaku seketus mungkin.

“Ani, eopseoyo. ‘Raja’ku ingin bertemu dengan ‘Ragu’ yang Agung!” jawabnya sambil menempelkan jari-jari lentiknya di pipi kiriku. Lalu setelah dia melepaskan tangannya, darah segar langsung mengalir dari pipiku. “Wuah~ Wanginya benar-benar nikmat.” serunya lagi sambil menjilati darah di pipiku, aku yang tersentak lalu mendorongnya kuat. Tanpa ku sadari butiran-butiran air menetes dari bagian tubuhnya yang kudorong. Kutatap tanganku yang mulai bersinar layaknya kristal. Aku menatap lama tanganku dan mendongak. Pada saat itulah, pandanganku bertabrakan dengan Minho. Baru ku sadari, dia tidak bergerak selangkahpun. Bahkan ekspresinya sama seperti ekspresi pada saat aku kesakitan tadi. Ada apa dengannya? Aku baru mengangkat tanganku untuk meraihnya saat Krystal menendangku dan memukulku dengan tongkatnya. Kuku-kuku tajam dan terpelihara dari kesepuluh jarinya-pun ikut andil membuat sebuah luka parah di tubuhku. Darah sudah mengucur deras dari semua luka-lukaku tapi aku tidak merasakan kesakitan apapun. Tidak sedikitpun, sama seperti Krystal yang tidak sedikitpun mau berhenti memukuliku kalau Minho tidak berteriak menyuruhnya berhenti. Aku menatap mereka dengan pandangan yang aku sendiri tidak mengerti. Aku mengusap ujung bibirku yang sobek entah akibat tendangan, pukulan, atau cakaran Krystal. Lalu tersenyum miris “Onnie~ Apa kau menyesal telah membuangku?” aku melihat kedua sosok di depanku terkejut. Jangankan mereka, aku sendiri terkejut dengan apa yang ku katakan. Kenapa lidahku bisa selancang ini? Aku terbatuk dan mencoba berdiri, sepertinya tulang rusuk kananku patah, karena aku mulai sesak bernafas lagi.

“Apakah Onnie menyesal? Onniiiiie~~ Jawab aku” aku menggeret kakiku pelan, walau tak ada rasa sakit dalam jiwaku. Sepertinya ragaku benar-benar tak merasakan hal yang serupa. Aku meringis saat kaki kiriku mengenai kaki meja. “Apa kau mau menghabisiku sekarang? Menghabisi Ratu Agung ini? Apa kau tidak takut keselamatanmu terancam? Huh?” Percikan api mulai keluar dari buku-buku jariku, dan sepersekian detik kemudian percikan-percikan itu berubah menjadi kobaran api di tangan kananku, segera mungkin aku mengarahkan api itu ke mukanya. Amarahku telah membuncah! Semua perlakuannya, semua! Semua pasti kubalas! Dia yang memisahkanku dengan orang tuaku! Dia yang membunuh kedua orang tuaku! Dia! Dia! Semua akibatnya! Dan dia harus membayar mahal semua itu!

“Wae? Kau pikir mudah mengalahkanku?” dia mulai terpancing dan mengeluarkan tongkat, yang baru ku sadari juga adalah tulang dari sayap kokoh dan hitam di punggungnya. Jari-jarinya yang runcing itu pula mulai memanjang. Aku mengkonsentrasikan otakku. Aku dapat mengalahkannya. Aku Ratu Agung! Memiliki semua kekuatan yang dimiliki kerajaan di segala arah. Akulah keseimbangan antara kaumku dan kaum manusia. Aku tidak dapat mati. Tapi aku memiliki akal. Aku… Sempurna! Tanpa terasa api sudah berkobar di sekeliling tubuhku. Mataku sudah mengkunci Krystal sebagai sasaran. Aku mengejarnya, terus memojokannya sampai dia berada di antara pintu teras yang terkunci dan kulkas. Aku tersenyum sinis –senyum yang seperti dia berikan tadi. Matanya sudah menatap liar ke segala arah, mencoba mencari jalan keluar tanpa –atau setidaknya terkena api dariku seminimal mungkin. Aku tertawa sangar dengan berjalan perlahan ke arahnya.

“ANDWAEEEE” teriak seorang yeoja sambil memelukku. Tiba-tiba api di sekeliling tubuhku hilang. Begitupula dengan Krystal dan Minho yang sudah lenyap dari hadapanku. Aku mendelik geram kepada yeoja itu dan hampir memakinya sampai aku menyadari dia sudah pingsan dengan mengalami luka bakar yang sangat serius.

Oke. Ini berbahaya!

***

Aku menariknya pelan menuju sofa di ruang tamu, karena tubuhnya cukup berat, tubuhku juga terluka, dan kamarku terlalu jauh dari dapur –tempat dimana aku hampir membalaskan semua dendamku. Saat aku menghempaskan tubuh yeoja itu ke sofa. Aku baru menyadari bahwa dia adalah Jesicca. Yeojachingunya Kibum. Apa dia melihat semua? Aigoo. Bagaimana kalau dia mengatakan ke Kibum? Aigoo… Aigoo… Eottokhe? Aku menatap cemas lagi ke arah yeoja itu, dan menemui sebuah ‘kejanggalan’. Aku rasa tadi aku mengatakan bahwa dia mendapati luka bakar yang ‘sangat serius’ bukan? Tapi mengapa sekarang dia hanya mendapati luka bakar kecil? Maksudku, seharusnya kedua tangan dan wajahnya terbakar. Tapi sekarang hanya tela… Anio! Malah luka itu sudah tidak ada! Sudah lenyap! Aneh sekali?!
Dan.. Aku baru menyadari. Bagaimana mungkin dia bisa memelukku dan hanya mendapat luka bakar? Seharusnya –kalau dia manusia biasa, dia sudah hangus dan menjadi manusia goreng. Aku tahu, panas api tadi pasti diatas 300°Celcius, karena kalau tidak Krystal tidak mungkin setakut itu menghadapiku.

“Uuugh~! Aphaa” ringis yeoja itu membuatku berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang seharusnya dia rasakan. Seandainya dia manusia.

“Gwaenchana?!” tanyaku dingin. Dia mengangguk sambil membenarkan posisi duduknya. “Arasseo. Kalau begitu, nuguya? Apa hubunganmu dengan Krystal dan mengapa kau bisa sembuh dengan sendirinya? Kau mortal atau fey?” tanyaku. Dia terdiam dan memainkan kedua ibu jarinya, aku menepis tangan itu dan berkata “Aku sedang berbicara denganmu.” dia sepertinya tersinggung dan mengerucutkan bibirnya lalu menjawab “Aku Jung Soo Yeon. Krystal onnie. Dan aku mortal dari kerajaan selatan. Aku bisa memelukmu karena aku sudah memakai es ditubuhku, dan aku dapat mengatur organ tubuhku sendiri, makanya aku dapat sembuh dengan cepat!!” Aku menatapnya dengan serius  lalu tertawa. Dia makin mengerucutkan bibirnya ”Dan aku lebih tua darimu, kalau kau mau tau.”

“Ne. Hajiman, kekuasaanku lebih tinggi darimu. So? Haruskah aku memanggilmu ‘onnie’??” ejekku, aku segera berdiri “Kara. Aku sedang ingin sendiri.” dia menatapku bingung “KARA!” kataku lagi sedikit berteriak. Dia terkejut dan segera mengambil tasnya dan pulang. Aku menghela nafas. Bertemu kedua kakakku dalam waktu satu hari. Harus senang atau sedih?

***

~YunJi POV End~
~Minho POV~

Aku menggeram kesal. Sebagian perasaanku marah karena Krystal menyakiti YunJi, sebagian dirinya juga senang atas penderitaan yang YunJi terima. Entah kenapa sekarang otaknya benar-benar tidak bisa di gunakan. Semua selalu terkendali oleh ototnya. Dan itu membuat fisiknya menurun drastis.

“Minho, badanmu panas lagi. Cepat ke kita periksa” kata Key membuyarkan lamunanku, aku hanya menepis tangannya lalu menyoret-nyoretkan huruf di kertas di depanku. Sejenak Key berusaha membaca apa yang kutulis, dan sejenak pula raut wajahnya berubah. “Kau…? Jangan bercanda Minho! Kau tahu itu tidak lucu!” serunya gusar. Aku hanya menautkan kedua alisku dan mencoret-coret kertas di hadapanku. Dia tersentak, lalu membuka mulut –berusaha membantah, namun mungkin dia sudah tidak bisa memikirkan kalimat yang tepat untuk membantah, sehingga yang terdengar hanyalah kalimat pendek dan tajam “Terserah!” sebelum akhirnya dia meninggalkanku sendiri. Aku tersenyum melihatnya, Kim Kibum, kudapatkan kartu AS-mu!

***

“Hyung, kira-kira kita akan kemana?” tanya Taemin kepada Onew. Bisa kulihat tatapannya yang ketakutan. Ini sudah larut malam, malah mungkin bisa dibilang sudah pagi. Tapi Onew hyung dan Jonghyun hyung malah mengajak kami semua keluar dorm. Dan lebih parahnya, tanpa mengajak Manager hyung. Aneh bukan?
“Aku hanya ingin mengajak kalian untuk pergi ke sebuah rumah.” kata Onew hyung sambil tersenyum, kulihat Jonghyun hyung juga tersenyum.

Oke, aku juga ketakutan!

45menit sudah berlalu, akhirnya Jonghyun hyung memberhentikan laju mobilnya. Aku tersentak bangun saat dia menghentikan mobil secara kasar.

“Kita sudah sampai.” katanya sambil tersenyum sinis. Aku membangunkan Taemin dan Key, lalu mengikuti Onew dan Jonghyun hyung turun,

“Villa?” tanya Key dengan suara yang sedikit tercekat. Tak ada jawaban untuk pertanyaannya Key, dia menatapku dengan kedua matanya yang tajam. Aku hanya mengangkat bahu dan menatapnya balik. Dia hanya mendesah. Kulihat dia menggenggam Taemin sangat erat. Sepertinya dia ketakutan juga.

Aku hanya tertawa kecil dan memandang lurus ke depan lagi. Memang agak menyeramkan sih. Karena villa ini besar, dengan pohon jeruk yang mengelilingi sekitar villa ini. Kumpulan pohon dengan daun yang rimbun memang lumayan menyejukkan mata dan pikiran. Tapi, suasana malam hari, sekeliling sepi, dan keadaan rumah yang terkesan kuno cukup membuat bulu kudukku  berdiri remang-remang. Key menarik bajuku dan berbisik

“Kau bisa gendong Taemin? Sepertinya dia benar-benar ketakutan…” bisik Key sambil menarik tanganku. Aku hanya mengangguk lalu mendekati Taemin –dia sedang berjongkok di dekat mobil, aku mengelus punggungnya pelan, mencoba menenangkannya. Lalu menyuruhnya menaikki punggungku.

“Hyung, aku takut.” kata Taemin, aku hanya tersenyum dan berkata ‘Semua baik-baik saja’ walau aku sendiri tidak tahu kami akan baik-baik saja…

“Dimana Key?” tanyaku kepada Jonghyun hyung, dia hanya menunjuk ke arah pintu villa yang memang sedikit terbuka,

“Bersama Onew hyung,” kata Jonghyun kaku sambil berjalan masuk.  Entah mengapa aku mengikutinya tanpa banyak bicara lagi. Taemin makin ketakutan saat kami masuk ke dalam villa. Walau luarnya terlihat kuno dan angker. Dalam villa ini tidak terlalu buruk. Terdapat tiga kamar utama di lantai bawah. Sementara di lantai atas aku tidak tahu  juga. Sepertinya masih ada tiga atau empat kamar lagi.

“Di atas ada 4 kamar. Lalu ada kamar loteng juga. Terserah kalian mau tidur dimana.” seru Jonghyun lalu membuka pintu salah satu kamar

“Chakkamanyeo! Key eodinde?” tanyaku, Jonghyun hanya mematung sesaat lalu dia menunjuk kamar di sebelahnya.

“Mungkin sudah tidur dengan Onew hyung. Lihat lampunya menyala” katanya,  loh? Tadi aku rasa lampunya mati. Apa hanya perasaanku saja ya? “Sudah. Taemin kau tidur dengan siapa?”

“Minho hyung saja.” katanya langsung “Hyung palliwa. Kita tidur di mana?” tanyanya dengan mata sayu.

“Di atas saja.” kataku lagi

***

“Hooooaam… Taemin bangun, sudah pagi.” Aku mengguncang-guncang sesosok yang di sampingku dengan mata yang tetap tertutup “Taeminn~~ Bangun… Kau mandi duluan sanaa~~” seruku lagi, saat menyadari tidak ada respon apapun aku membuka mataku, “TAEMIN!! TAEMIN ODINDEEE~!!!!!!!!!” Aku segera bangkit dari tempat tidur dan berlari ke bawah. “TAEMIN! KEY HYUNG! ONEW HYUNG! JONGHYUN HYUNG!!!” aku terus berlari sampai aku menyadari aku sudah melewati ruangan ini 3 kali.

Apa-apaan ini?

“Mencari seseorang Minho? Atau kupanggil Raja Utara?” ujar sebuah suara, dia?

TBC

4 thoughts on “FF/REMEMBER/04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s