FF/REMEMBER/05

Title      : /Remember/05/

Genre   : Apa ajalah suka2

Author  : Song Hae Yoo

Length  : Sequel

Rating : General

Main Cast : Han Yun Ji

Kim Kibum

Support Cast : Other SHINee Member

Park Sun Young

E.t.c

A.N : Mian kalo istilah2 disini pasaran. Karena sejujurnya aku tak sanggup *halah, apadeh* sejujurnya, istilah2nya kubrowsing di i-net XPP –and mianhae, disini aku lebih mengarah ke KeySica couple

~Key POV~

Aku mengerjap-kerjapkan mataku berkali-kali.Berusaha menyesuaikan cahaya yang kuterima. Aargh, tengkukku sakit sekali. “Di..dimana ini? Aku dimana?” tanyaku –lebih tepatnya ke diriku sendiri, karena aku sekarang sedang berada di ruangan kosong sendirian. Sebuah kamar luas, dengan jendela yang sudah dicat dari luar. Apa-apaan ini? Aku mencoba bangun dan membuka pintu. Klek klek.. Terkunci! Apa yang terjadi? Aku mencoba tenang dan duduk di pojok kamar. Aku menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya perlahan. Apa yang kulakukan semalam? Aku menyuruh Minho menggendong Taemin, lalu Jonghyun mengajakku berbicara. Lalu? Lalu apalagi?

            “KEY HYUNG! ONEW HYUNG! JONGHYUN HYUNG!!!” teriakkan Minho membuatku tersadar dan senang, aku berlari mendekati pintu dan menggedor-gedor pintu itu. Namun usahaku untuk berteriak berhenti saat mendengar ada suara lain, dan tentu itu bukan suara Minho.

            “Mencari seseorang Minho? Atau kupanggil Raja Utara?” tanya seseorang, yang kuyakini bukan suara Minho. Onew hyung kah? Aku menempelkan telingaku untuk mendengar lebih jelas.

            “Kurasa ini bukan bagianmu Kim Kibum-ssi” kata seseorang yang tanpa kuketahui sekarang sudah ada di belakangku dengan jari-jarinya yang menancap pipiku.

            “N…Nuguya?” tanyaku, dia semakin menancapkan jari-jarinya di kedua pipiku

            “Choneun Krystal Jung imnida. Bukankah kau selalu datang ke kuburanku, Kibum-ssi?” ucapnya tepat di telinga kiriku, aku mendelik dan mencoba melepaskan diri, tapi cengkramannya di pipiku semakin kencang. Dapat kurasakan darahku mulai menetes dari ujung kukunya. “Kibum-ssi, kau apakan onnie-ku hah?” tanyanya. Aku hanya bisa diam karena luka di pipiku membuatku sakit sekali untuk berbicara,

            “Apa, apa maksudmu?”

            “Kau tahu apa maksudku Kibum-ssi… Kau tahu,” aku mengerang kesakitan, dia sudah keterlaluan, aku menarik kedua tangannya lalu berusaha melemparnya ke pintu. Namun kaget bukan kepalang saat aku melihat ‘hanya’ 2 buah tulang panjang berwarna putih kekuningan –dengan 10 ruas tulang kecil di salah satu bagian tulang-tulang itu yang terpelanting ke pintu. Beberapa detik kemudian tulang-tulang itu merayap melewatiku, aku berputar –mencari tau kemana arah mereka pergi, ternyata tulang-tulang itu menyatu lagi ke tubuh Krystal. Aku melangkah mundur saat melihat kuku-kukunya yang tiba-tiba memanjang, matanya berubah menjadi kelam.

            “Ti…ti..tidak! Tidak!! TIDAAAKKK!!!”

***

~Key POV End~
~YunJi POV~

Aku sedang asik mendengarkan musik sampai tiba-tiba aku merasakan ada yang melempar batu di jendelaku. Aku mendekati jendela itu dan –masih- berharap Minho yang melakukan. Namun ternyata aku salah, karena… tidak ada seorangpun di sana?

            “Mencari siapa nona?” tanya sebuah suara bariton dari belakang yang membuatku terlonjat kaget seper sekian detik. Sebelum menyadari semua adalah perbuatannya.

            “Puas mengerjaiku Jinki-ssi?” tanyaku sedikit kesal. Jinki hanya tersenyum lebar lalu mengecup tangan kananku.

            “Sudah waktunya Ratuku, ini waktunya kau menunjukkan wajahmu. Menunjukkan keagunganMu. Ratu Agungku” dia memberi penekanan di kata –ku. Aku melepaskan tanganku darinya

            “Aku bukan milik-mu ataupun milik orang lain. Sudahlah, cepat bawa aku ke kastil”

***

YunJi menatap Minho dari kejauhan, walau dia tahu dia memang memiliki keganjilan. Tapi dia tetap merasa kagum saat melihat Minho yang sedang melawan Jonghyun. Jonghyun memang masih bisa menandingi Minho, namun YunJi dapat melihat sirat mata Jonghyun yang meminta bantuan. Dan YunJi yakin Minho mengetahuinya juga karena Minho makin gencar mengeluarkan api-api dari buku-buku jarinya.

            “Jinki, bantu Jonghyun. Sepertinya dia sudah terdesak” perintahku, Jinki mengangguk kemudian dia menghilang, sedetik kemudian dia telah berada di belakang Minho dan bersiap memukulnya, “Bodoh!” desisku saat melihat Minho menyadari kehadiran Jinki dan menghempaskannya dengan mudah sekali. Bagaimana mungkin aku memiliki pengawal yang bodoh dan licik seperti mereka? Aku terus melihat pertarungan itu. Api Minho perlahan-lahan mulai mereda. Entah kecapaian atau dia merasa sudah menang. Aku tersenyum simpul lalu mendekatinya. “Pertarungan yang bagus Minho~! Daebak…” ujarku dengan sedikit nada yang dibuat sedikit melengking. Minho menatapku heran. Dia melihatku dari ujung kepala lalu turun hingga ujung kaki dan kembali ke ujung kepala.

            “Apa yang kau lakukan di sini YunJi? Dan, kenapa kau bisa kemari?” nadanya yang terdengar cemas, sempat membuatku luluh kalau aku tidak melihat Jonghyun dan Jinki yang menderita kesakitan akibat luka bakar yang baru saja mereka terima. Aku berdeham pelan,

            “Apa yang kulakukan di sini? Tentu saja menemuimu. Dan kenapa aku bisa kemari? Apa kau tidak ingat saat Jinki tiba-tiba berada di belakangmu huh?” tanyaku balik dengan seringaian di bibirku. Mengingat waktu itu aku hampir menghabisi Krystal –kakak jahanam itu, kepercayaan diriku langsung naik. Aku memanjangkan kedua kuku-ku. “Kau siap ronde kedua Choi Minho-ssi?” tanyaku, dia menatapku tak percaya dan menelan ludahnya

            “Kaulah yang seharusnya bersiap!!” teriak Minho, matanya mulai membara. Di kedua buku tangannya keluar asap yang membuat ruangan menjadi panas.

            “Kalau gitu, tunggu apa lagi?” tanyaku lalu berusaha menyerangnya

***

~YunJi POV End~
~Author POV~
YunJi mengeluarkan api di sela-sela kuku panjang dan runcing-nya. Dia sudah tidak peduli siapa lawannya, ataupun siapa yang akan menang. Jiwanya yang bergelora sudah haus akan darah segar. Darah yang mengalir dari tubuh pecundang yang tentu dihabisi oleh tangannya sendiri. Namun ternyata semua itu tak semudah yang dibayangkannya. Walaupun dari segi kekuatan YunJi menang telak, namun tidak dengan kestabilan dan kecepatan. Minho bergerak sangat cepat dan bisa mengendalikan energinya dengan mudah. Sudah berkali-kali tubuh YunJi terkena sentuhan lidah api yang sangat panas itu. Namun YunJi tidak menyerah, berkali-kali pula dia menyerang bagian jantung Minho dengan kuku-nya yang sangat panas itu. Walau kalah dalam kecepatan, YunJi masih bisa menyerang walau sedikit meleset. Tidak sedikit memang luka bakar ditubuhnya. Namun luka goresan dan bakar di tubuh Minho jauh lebih parah dari YunJi.

             Minho mengatur nafasnya yang seakan mau putus. Tangan kanannya benar-benar sudah tidak berfungsi lagi. Luka tusukan tepat di tulang belikatnya membuat rasa nyeri yang tak tertahankan ketika digerakkan. Minho menatap YunJi. YunJi sangat kacau. Tembakannya semua meleset. Tapi dia tau kalau YunJi belum mengeluarkan semua tenaganya. YunJi belum bisa menyelaraskan tubuhnya dengan tenaga itu. YunJi belum mengetahui rahasia besar itu.

            “Kau kenapa? Ingin menyerah?” tanya Minho, sekedar basa-basi agar dia bisa menyembuhkan luka di tangannya. YunJi tersenyum bengis. Tampak belum mengerti.

            “Kau yang kenapa? Takut dikalahkan oleh yeoja, eoh?” tanya YunJi balik. Minho tidak menjawab karena masih sibuk mengatur nafasnya.

            “Ne” jawaban Minho, yang benar-benar tidak pernah dipikirkan oleh YunJi “Aku tidak menyangka yeojachingu-ku yang manis dan lugu, sekarang berada dihadapanku dengan jari-jari yang panjang dan runcing, dan siap membunuhku sewaktu-waktu.” akhir Minho. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi, suaranya benar-benar menunjukkan kekecewaan yang sangat dalam. YunJi meringis. ‘Namja ini benar-benar sulit ditebak’ batinnya.

            “Dunia sudah berubah, yeoja-mu pasti sudah mati karena keluguannya itu. Dia pasti tidak sanggup melawan kerasnya dunia.” jawab YunJi. Nada suaranya sudah berkurang, tapi kewaspadaannya tidak berkurang sedikitpun.

            “Jinjja? Ohm…” kata Minho tidak jelas, lalu tiba-tiba perhatian YunJi terusik oleh teriakkan Jonghyun dan Jinki

            “AWAS DIBELAKANGMU!!!” dan seketika rasa panas menjalar di tengkuk YunJi.

            “Kalau begitu akan kubuat dia hidup kembali!!!” ujar Minho lalu memukul tengkuk YunJi. Kini tidak ada lagi sedikitpun kebimbangan dihati Minho. Ia tahu di hadapannya memang YunJi, tapi dia juga tahu bahwa jiwa di dalam sosok itu bukanlah YunJi. Jadi dia tidak perlu ragu lagi untuk ‘menghabisi’ mahluk itu.

            “Argh! Oppa nappa! Apha!” tanpa sadar YunJi memekik halus. Ketika menyadari apa yang barusan dikatakannya, dia menutup mulutnya dan kembali menyerang.

            ‘Astaga! YunJi!! Pusatkan pikiranmu! Serang dia! Kau adalah Ratu Agung! Ratu yang Agung tidak boleh lemah!’ batin YunJi. Amarahnya yang membubung tinggi membuat tembakan-tembakan dan serangan yang digencarkannya semakin akurat. Namun karena kesehatan Minho sudah pulih, Minho dapat menandingi YunJi dengan sangat mudah. Jonghyun dan Onew berpandangan bingung. ‘Ini pasti menjadi pertandingan yang sangat panjang. Sang-at-pan-jang!’ batin keduanya.

***

             Key mengatur nafasnya yang mulai memburu. Tubuhnya sudah tidak berdaya. Kamar yang tadinya terlihat rapi dan kosongpun sudah tak berbentuk oleh cakaran dan baku hantan selama satu jam yang lalu. Dia mengusap darah di ujung bibirnya. Namun matanya tak lepas dari pertarungan hebat antara Krystal dengan Jessica. Awalnya Key ketakukan dan berusaha melindungi Jessica dari cengkraman Krystal. Tapi sekarang dia tahu Jessica datang untuk menyelamatkannya. ‘Tapi aku tak boleh harus terus diam, aku harus membantunya.’ batin Key. Dia melihat sekeliling. Berharap ada sesuatu yang bisa digunakannya untuk melukai Krystal. Namun nihil! Tidak ada perabotan rumah satupun disini! Key meremas rambutnya frustasi. Ia tahu diri dan tidak mungkin menghajar Krystal–mengingat tadi dia sempat dihajar habis-habisan. Namun bukan Key kalau dia tidak bisa menyelesaikan masalah yang menyangkut dirinya. Dia menarik seprai yang sudah kusam itu lalu menggulungnya. Dibungkusnya tubuh mungil Krystal dan mendorongnya berkali-kali ke arah pintu. Setelah merasa tak ada perlawanan dia mendorong tubuh itu ke arah jendela,

            “Key! Awas dibelakangmu!!!” teriak Jessica mengalihkan perhatian Key. Key menoleh sesaat dan menyadari bahwa sosok Krystal telah berada dibelakangnya–dengan tangan kanan berada di atas. Key berusaha menghindari serangan Krystal, tapi tulang Krystal telah memanjang terlebih dahulu dan memukul bahu sebelah kirinya.

            “Aarghh~!!” erang Key saat tulang Krystal menyapu bagian tubuh sebelah kirinya. Darah segar kembali mengalir di tangan kirinya. Key berusaha menghindari Krystal, namun –lagi-lagi dia kalah cepat dari Krystal yang sudah berada dibelakangnya. Jessica meningkatkan keawasannya. Dia tahu Key sedang dalam masalah besar.

            “Krystal! Enough!! Oke? Apa maumu?” ujar Jessica sedikit menahan amarah akibat perlakuan Krystal –yang masih– menjilati bahu kiri Key yang terus mengeluarkan darah segar,

            “Darahmu benar-benar enak. Manis sekali… Pantas onnieku menyukaimu…” ujar Krystal lirih, dia menghembuskan nafas pelan di telinga Key, membuat rasa takut dan sakit Key menjadi-jadi. Blaashh~

Krystal terkejut saat beberapa bongkahan es mengarah ke wajahnya. Dia memang bisa menghindar, tapi tetap saja tangan kirinya agak sedikit terlambat sehingga tertancap satu es itu. Dan menyebabkan darahnya –darah kental berwarna kehitaman mengalir. Kontras sekali dengan es yang menancap di tangannya.

            “Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu saeng. Kau sudah benar-benar membuat Onnie marah!” ujar Jessica, bola matanya berubah menjadi biru langit. Urat-urat dengan warna serupa bermunculan di sekitar mata dan tangannya. Rambutnya kian memucat, menandakan amarahnya yang sudah tak tertahankan. Lalu dari tangannya keluarlah es-es yang ujungnya meruncing. Bahkan karena saking runcingnya terdapat kilatan-kilatan dari es tersebut, “Le..pas..kan dia! LEPASKAN DIA KRYSTAL!!” teriak Jessica lalu tiba-tiba berlari, dan dalam sekejap dia sudah berada di depan Krystal sambil menusuk-nusukkan es-es tersebut secara brutal kearah perutnya. Darah hitam kental mulai mengalir lagi dari luka-luka yang dibuat Jessica. Bau busukpun mulai memenuhi ruangan ini, namun Jessica terus-terusan menusuk Krystal sampai akhirnya Krystal terjatuh terduduk dengan darah hitam yang mengalir melalui sudut-sudut bibirnya. Dia menatap nanar kearah Jessica dan aku bergantian.

            “Onnie..on…onnie, kau…aargh.. tega melakukan ini p…padak.khu?” ujarnya pelan sebelum terbatuk-batuk dan menghilang.

            “ANI! A-apa apa yang kulakukan?! ANI! ANIO!! KRYSTAL!! MIANHAE~ KRYSTAL JANGAN PERGI!! KAJIMAA! KRYSTAAAL!!” teriak Jessica menjadi-jadi saat kesadarannya mulai pulih. Ketika dia menyadari dia telah membunuh yeodongsaeng-nya sendiri.. “SHIREO! Shireo~ Shireooo~ Kajimaaa Krystal! Kajimaa.. Mianhae, hikshiks..” ujar Jessica sambil memukul-mukul pelan lantai kayu tempat Krystal tersungkur. Air matanya terus meleleh menjadi butiran-butiran salju. Aku memeluknya, mendekapnya. Mencoba berbagi kesedihan. Semua karena aku. Karena aku lemah.

            “Mianhae Ssica. Karena aku kau kehilangan… Kke..kehilangan dia~” aku membelai rambut halusnya pelan. Tubuhnya masih bergetar hebat. Dadaku mulai membeku..

            “I-ini… ini semua salahku! SALAHKUUU~!” teriaknya, butiran salju semakin banyak menutupi kedua pipi Jessica. Matanya yang memerah mulai membengkak, aku mengusapnya pelan.

            “Krystal baik-baik saja… I trust it… Can you?” ujarku pelan sambil menatapnya lembut. Setelah cukup lama bertatapan, diapun menghapus sisa butiran salju dari matanya dan tersenyum.

            “Ne, I trust you Key. Always~” katanya lalu menunjukkan deretan gigi putih bersih senada dengan warna kulitnya. Dan entah apa yang terjadi, kurasa aku telah mabuk… karena, yah. Aku menciumnya… Oh tidak~

***

            “Key!” teriak suara yang cukup familiar di telingaku. Aku menoleh untuk memastikan, dan ternyata benar. Onew hyung sudah berdiri di belakangku –dengan tangan terlipat di dada dan senyuman khasnya. “Apa kau sudah bangun? Bagaimana mimpimu? Mimpi indahkah? Hahaha” serunya sambil tertawa. Ingin sekali aku menghajar wajah itu kalau Jessica tidak menahanku. “Oh~ Jessie apa yang kau lakukan disini? Apa kau mencari Key? Bukankah kau sudah diputuskan oleh dia? Hahaha, kalian benar-benar pas~”

            “Sejak kapan kau begitu cerewet Onew? Di mana Minho dan Taemin!!” potongku. Aku menatapnya tajam, tapi dia hanya mengidikkan bahunya

            “Taemin aku tidak tahu… Tapi kalau Minho…” dia menoleh ke belakang “Cah Yo YunJi-ah! Hwaitiiiiing~!!” teriaknya tiba-tiba, aku membelalakan mataku tak percaya. YunJi?

Tanpa berpikir dua kali, aku segera berlari menuju ruang tengah… Mataku makin membelalak saat menyadari apa yang di katakan Onew hyung benar.

            “YunJi!!!” teriakku spontan membuat YunJi menoleh kepadaku –dan sialnya- Minho memakai kesempatan itu untuk menusuk punggung YunJi.

            “AAARRGHH~!” pekik YunJi, aku berlari menghampirinya, darah yang keluar banyak sekali.

            “Minho! Kenapa kau tega sekali!! Dia ini yeojachingu-mu bukan?” bentakku. Aku menarik YunJi kedalam bekapanku. Lalu aku mengambil kain yang tergeletak tak jauh dari sana dan mengikatnya di punggung YunJi. “Aaargh…” teriakku saat aku merasakan sesuatu yang tajam mencium punggungku. Aku menoleh dan ternyata malah menemukan tangan YunJi yang berlumuran darah –darahku. “YunJi! Ap…Apa..”

            “Gracias Kibum. Tapi aku tidak membutuhkanmu. Dan kalau bukan karena kau aku tak akan seperti ini! Dasar manusia bodoh!” katanya sinis. Hey! Kenapa seakan-akan aku melihat Krystal disini?

            “Kau kenapa YunJi-ah? Apa yang salah denganmu?” tanyaku sedikit ragu, antara menahan sakit dan ingin tahu. Namun ternyata tubuhku tak sanggup lagi mehanan. Seketika semua gelap

***

            “Key~ Kau baik-baik saja?” tanya Jessica saat aku mulai sadarkan diri. Aku mengerang kesakitan. Di mana aku?

            “Ssica? Dimana aku?” ujarku pelan. Ssica hanya menghela nafas kasar lalu menggeleng.

            “Dimanapun ini. Kau harus istirahat.. Sekarang tidurlah, aku akan menjagamu.” dia mendorongku agar kembali berbaring.

Aku kembali berbaring, tapi mata melihat liar ke sekeliling ruangan ini. Ruangan yang didominasi oleh warna ungu ini jelas bukan salah satu kamar yang ada di rumah sakit. Lagi pula bau obat yang menusuk tidak tercium sedikitpun disini. Sebeenarnya dimana ini?

            “Ratu, ini obatnya… Kau cukup mengoleskannya tipis di lukanya Ratu…” ujar suara sayup-sayup. Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan berpandangan dengan mahluk aneh berwarna kebiruan. Dia menatapku terkejut dengan kedua matanya yang besar dan bulat. Selera berpakaiannya aneh sekali.

            “Key… Kau tahu sekarang bukan? Kemana tempatku pergi saat namja pemabuk itu membuatku muak?” tanya Jessica sambil mengoleskan lukaku.

            “Hm-mm, tempat ini bagus, aduuuh~ tapi kenapa kau masih tetap tinggal dengan namja itu Jessica?” tanyaku, dia tersenyum miris..

            “Apa kau lupa? Aku membuang banyak waktu untuk mencari namja babo itu. Dan aku harus membuatnya membayar semua penyesalanku. Apalagi setelah aku tau dia juga yang membunuh ibuku dan menjual aku serta Krystal untuk melunasi hutang-hutangnya, Ini bukan sekedar penyesalan saja. Tapi ini balas dendam!” ujarnya. Matanya menyala-nyala api. Tapi jari-jarinya membuat obatku menjadi sebuah cermin kasar. Waw, tanpa kusadari… Akulah yang paling lemah disini?

            “Kau tidak bisa begitu… Bagaimanapun dia appamu. Yahh, walau aku juga kurang menyukai ayahku, tapi aku tetap menghargainya.” kataku perlahan. Inilah yang tidak kusukai dari Jessica. Dia bukanlah tipe orang yang melupakan apa yang telah terjadi. Dia selalu mengingat semua hal yang terjadi padanya. Sehingga dia selalu sangat berhati-hati terhadap apapun yang terjadi padanya.

            “Yasudahlah.. Apa kau sudah sembuh? Aku ingin membawamu ke sebuah tempat…” ujarnya berusaha mengalihkan pembicaraan… Aku menggenggam tangannya dan mengangguk.

            “More better. Eodi?” tanyaku dengan senyumku. Namun dia hanya membalas dengan jentikan tangan. Hey! Dimana aku?

***

~Minho POV~

Aku sudah benar-benar terdesak. Sial! Lagipula dimana Key? Dimana Taemin? Aish!! Kalau begini caranya aku bisa mati!

BRRAAAKKKK!
Ini sudah kesekian kalinya aku menangkis pukulan atau tembakan dari YunJi, namun sayangnya aku kurang beruntung kali ini. Pecahan dari benda tangkisanku menggores daerah leherku. “Argh~” pekikku tertahan… Tenagaku sudah terkuras. Aku benar-benar letih saat ini. Namun YunJi tidak sedikitpun menunjukkan ada keletihan pada dirinya. Aku harus menyusun rencana… Aku tidak ingin mati konyol. Setidaknya tidak ditangannya.

             Aku mengedarkan pandanganku… Api. Aku butuh api. Sekecil apapun itu. Mataku terus was-was mencari api dan berjaga apabila YunJi menyerang. Lalu sebuah kilatan tertangkap di mataku. Pematik api!

Tak kusadari sebuah senyum mengembang dibibirku. Sekarang aku hanya perlu memutar otak agar aku bisa mengambil pematik itu tanpa sepengetahuan YunJi.

            “Apa yang kau pikirkan Minho?” bisik seseorang di belakang tengkukku. Sedetik kemudian kurasakan dingin membekukan tengkukku.

            “YunJi~” geramkku, kenapa aku tidak menyadarinya? Aku melakukan gerakan memutar, lalu menendangnya. Dia tertawa puas dan berkata,

            “Hahaha… Seandainya kubekukan semua kepalamu, apa kau masih bisa menendangku, Choi Minho~?” tanyanya –atau lebih tepat ejeknya, dia menarik tangan kanannya dari jubah yang panjang, lalu selang beberapa menit kuku-kukunya mulai memanjang dan menjadi es. Begitupula tangannya terselimuti oleh es hingga benar-benar mengkilap. “Kudengar, api bisa dikalahkan oleh air… Aku ingin mencobanya,” ujarnya sambil mengeluarkan seringaian yang mengerikan. Oh Tuhan, aku harus cepat-cepat mengambil pematik itu!!

***

            “Aarrrrrghhhh!!” teriakku untuk yang kesekian kalinya… Badanku sudah benar-benar mati rasa, sudah banyak biang-biang es menempel di badanku. Tapi, aku masih belum mendapat kesempatan untuk mengambil pematik itu. DUAAKK
            “Arrghh~!!” kali ini YunJi benar-benar ingin membunuhku, bongkahan besar biang es dilemparkan kearahku, sehingga aku terpelanting cukup jauh. Sial, badanku benar-benar… Eh? Apa ini?? Aku melirik tangan kananku yang terasa kembali berfungsi. Pematik api!!! Secepat kilat aku menggenggam pematik itu dan menghirup apinya. Kurasakan percikan-percikan api melewati aliran darahku, bagaikan menghirup udara segar ditengah kepulan asap. Rasanya seluruh sakit ditubuhku hilang. Aku kembali berdiri, kurasa aku sudah siap untuk melanjutkan pertandingan ini.

            “Wae? Hahaha… Apa kau sudah mengaku kalah?” tanya YunJi sinis. Aku benar-benar ingin berteriak kepadanya, ‘Kembalikan YunJi-ku’, tapi aku yakin dia malah makin merasa berkuasa. Aku mengepalkan tanganku. Memusatkan kembali pikiranku. Ini adalah senjata terakhirku. Atau aku akan kalah.

Aku menarik nafasku dalam-dalam. Ingat Minho, kau harus konsentrasi. Kumpulkan semua kenangan pahitmu, kumpulkan semua amarahmu. Kumpulkan! Buat seakan-akan kau akan meledak. Konsentrasi. Konsentrasi.

~Jessica POV~
            “Ada apa ini? Di mana? Kenapa panas sekali??” tanya Key secara beruntun saat aku kembali membawanya ke villa. Gawat! Sepertinya aku terlalu lama meninggalkan mereka berdua. Apa yang terjadi dengan Minho? Apakah dia sudah tidak ada? “Ssicaa~~ Panas sekali di sini…” rajuk Key, wajahnya sudah benar-benar merah. Tanpa kusadari, tangankupun mulai mencair. Aigoo, eottokhe? Aku harus menolong Minho. Tapi aku juga tidak bisa mendekat jika suhu sepanas ini… Apa yang harus kulakukan??

            “Ssicaa~~”

            “Ne~ Ayo kita keluar.” Mian Minho… Percuma juga kalau aku bertahan di sini. Yang ada nyawa kami harus terenggut.

            “Kajja~!!” teriak Key, kamipun berlari menuju pintu luar. Dan setelah beberapa langkah kami keluaar, BOOOOMM

Sebuah ledakan yang sangat keras membuat villa itu menjadi puing-puing.

Benar-benar puing…

            “Minho!” ucapku tak percaya… Key yang mendengar ucapanku pun melihat ke arah yang sama “Minho!! Aniyo! MINHO! TAEMIN!!!” teriak Key lalu berlari ke arah puing-puing itu.

Namun saat kami hendak berjalan mendekati villa, sesosok yeoja yang kami kenal tersenyum sinis ke arah kami.

Sesaat kami tercekat. Tak ada yang berbicara, seakan waktu berhenti berputar. Apa yang terjadi? Wae?

            “K-k-kau? Apa yang kau lakukan disini…” ujar Key yang terputus –karena dia sudah berubah menjadi batu.

            “Sekarang tinggal kita berdua bukan, Jess… Anio, Soyeon?” ujarnya dingin, lalu mengeluarkan senyum sinisnya lagi.

Omo… Apakah ini giliranku? Key, I’m sorry~

~T.B.C~

I’m bacccccccckkkkkk~~~!! Hehehehe ^^V Mian, kalau ada yang membaca ff abalku ini. Aku benar-benar sibuk dengan tugas-tugasku… Entah kapan guru bosan dengan memberikan tugas -3-

Maap yaaa maap… bener2 gak diharapin banget. Udah lama ceritanya gak menarik pula…Bahkan mungkin part 6 juga ngaret.. Biasalah, penulis sangat amatir. Hehehe…. Jeongmal jeongmal jeongmal mianhae *bow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s