FF/REMEMBER/05

Title      : /Remember/05/

Genre   : Apa ajalah suka2

Author  : Song Hae Yoo

Length  : Sequel

Rating : General

Main Cast : Han Yun Ji

Kim Kibum

Support Cast : Other SHINee Member

Park Sun Young

E.t.c

A.N : Mian kalo istilah2 disini pasaran. Karena sejujurnya aku tak sanggup *halah, apadeh* sejujurnya, istilah2nya kubrowsing di i-net XPP –and mianhae, disini aku lebih mengarah ke KeySica couple

~Key POV~

Aku mengerjap-kerjapkan mataku berkali-kali.Berusaha menyesuaikan cahaya yang kuterima. Aargh, tengkukku sakit sekali. “Di..dimana ini? Aku dimana?” tanyaku –lebih tepatnya ke diriku sendiri, karena aku sekarang sedang berada di ruangan kosong sendirian. Sebuah kamar luas, dengan jendela yang sudah dicat dari luar. Apa-apaan ini? Aku mencoba bangun dan membuka pintu. Klek klek.. Terkunci! Apa yang terjadi? Aku mencoba tenang dan duduk di pojok kamar. Aku menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya perlahan. Apa yang kulakukan semalam? Aku menyuruh Minho menggendong Taemin, lalu Jonghyun mengajakku berbicara. Lalu? Lalu apalagi?

            “KEY HYUNG! ONEW HYUNG! JONGHYUN HYUNG!!!” teriakkan Minho membuatku tersadar dan senang, aku berlari mendekati pintu dan menggedor-gedor pintu itu. Namun usahaku untuk berteriak berhenti saat mendengar ada suara lain, dan tentu itu bukan suara Minho.

            “Mencari seseorang Minho? Atau kupanggil Raja Utara?” tanya seseorang, yang kuyakini bukan suara Minho. Onew hyung kah? Aku menempelkan telingaku untuk mendengar lebih jelas.

            “Kurasa ini bukan bagianmu Kim Kibum-ssi” kata seseorang yang tanpa kuketahui sekarang sudah ada di belakangku dengan jari-jarinya yang menancap pipiku.

            “N…Nuguya?” tanyaku, dia semakin menancapkan jari-jarinya di kedua pipiku

            “Choneun Krystal Jung imnida. Bukankah kau selalu datang ke kuburanku, Kibum-ssi?” ucapnya tepat di telinga kiriku, aku mendelik dan mencoba melepaskan diri, tapi cengkramannya di pipiku semakin kencang. Dapat kurasakan darahku mulai menetes dari ujung kukunya. “Kibum-ssi, kau apakan onnie-ku hah?” tanyanya. Aku hanya bisa diam karena luka di pipiku membuatku sakit sekali untuk berbicara,

            “Apa, apa maksudmu?”

            “Kau tahu apa maksudku Kibum-ssi… Kau tahu,” aku mengerang kesakitan, dia sudah keterlaluan, aku menarik kedua tangannya lalu berusaha melemparnya ke pintu. Namun kaget bukan kepalang saat aku melihat ‘hanya’ 2 buah tulang panjang berwarna putih kekuningan –dengan 10 ruas tulang kecil di salah satu bagian tulang-tulang itu yang terpelanting ke pintu. Beberapa detik kemudian tulang-tulang itu merayap melewatiku, aku berputar –mencari tau kemana arah mereka pergi, ternyata tulang-tulang itu menyatu lagi ke tubuh Krystal. Aku melangkah mundur saat melihat kuku-kukunya yang tiba-tiba memanjang, matanya berubah menjadi kelam.

            “Ti…ti..tidak! Tidak!! TIDAAAKKK!!!”

***

~Key POV End~
~YunJi POV~

Aku sedang asik mendengarkan musik sampai tiba-tiba aku merasakan ada yang melempar batu di jendelaku. Aku mendekati jendela itu dan –masih- berharap Minho yang melakukan. Namun ternyata aku salah, karena… tidak ada seorangpun di sana?

            “Mencari siapa nona?” tanya sebuah suara bariton dari belakang yang membuatku terlonjat kaget seper sekian detik. Sebelum menyadari semua adalah perbuatannya.

            “Puas mengerjaiku Jinki-ssi?” tanyaku sedikit kesal. Jinki hanya tersenyum lebar lalu mengecup tangan kananku.

            “Sudah waktunya Ratuku, ini waktunya kau menunjukkan wajahmu. Menunjukkan keagunganMu. Ratu Agungku” dia memberi penekanan di kata –ku. Aku melepaskan tanganku darinya

            “Aku bukan milik-mu ataupun milik orang lain. Sudahlah, cepat bawa aku ke kastil”

***

YunJi menatap Minho dari kejauhan, walau dia tahu dia memang memiliki keganjilan. Tapi dia tetap merasa kagum saat melihat Minho yang sedang melawan Jonghyun. Jonghyun memang masih bisa menandingi Minho, namun YunJi dapat melihat sirat mata Jonghyun yang meminta bantuan. Dan YunJi yakin Minho mengetahuinya juga karena Minho makin gencar mengeluarkan api-api dari buku-buku jarinya.

            “Jinki, bantu Jonghyun. Sepertinya dia sudah terdesak” perintahku, Jinki mengangguk kemudian dia menghilang, sedetik kemudian dia telah berada di belakang Minho dan bersiap memukulnya, “Bodoh!” desisku saat melihat Minho menyadari kehadiran Jinki dan menghempaskannya dengan mudah sekali. Bagaimana mungkin aku memiliki pengawal yang bodoh dan licik seperti mereka? Aku terus melihat pertarungan itu. Api Minho perlahan-lahan mulai mereda. Entah kecapaian atau dia merasa sudah menang. Aku tersenyum simpul lalu mendekatinya. “Pertarungan yang bagus Minho~! Daebak…” ujarku dengan sedikit nada yang dibuat sedikit melengking. Minho menatapku heran. Dia melihatku dari ujung kepala lalu turun hingga ujung kaki dan kembali ke ujung kepala.

            “Apa yang kau lakukan di sini YunJi? Dan, kenapa kau bisa kemari?” nadanya yang terdengar cemas, sempat membuatku luluh kalau aku tidak melihat Jonghyun dan Jinki yang menderita kesakitan akibat luka bakar yang baru saja mereka terima. Aku berdeham pelan,

            “Apa yang kulakukan di sini? Tentu saja menemuimu. Dan kenapa aku bisa kemari? Apa kau tidak ingat saat Jinki tiba-tiba berada di belakangmu huh?” tanyaku balik dengan seringaian di bibirku. Mengingat waktu itu aku hampir menghabisi Krystal –kakak jahanam itu, kepercayaan diriku langsung naik. Aku memanjangkan kedua kuku-ku. “Kau siap ronde kedua Choi Minho-ssi?” tanyaku, dia menatapku tak percaya dan menelan ludahnya

            “Kaulah yang seharusnya bersiap!!” teriak Minho, matanya mulai membara. Di kedua buku tangannya keluar asap yang membuat ruangan menjadi panas.

            “Kalau gitu, tunggu apa lagi?” tanyaku lalu berusaha menyerangnya

***

~YunJi POV End~
~Author POV~
YunJi mengeluarkan api di sela-sela kuku panjang dan runcing-nya. Dia sudah tidak peduli siapa lawannya, ataupun siapa yang akan menang. Jiwanya yang bergelora sudah haus akan darah segar. Darah yang mengalir dari tubuh pecundang yang tentu dihabisi oleh tangannya sendiri. Namun ternyata semua itu tak semudah yang dibayangkannya. Walaupun dari segi kekuatan YunJi menang telak, namun tidak dengan kestabilan dan kecepatan. Minho bergerak sangat cepat dan bisa mengendalikan energinya dengan mudah. Sudah berkali-kali tubuh YunJi terkena sentuhan lidah api yang sangat panas itu. Namun YunJi tidak menyerah, berkali-kali pula dia menyerang bagian jantung Minho dengan kuku-nya yang sangat panas itu. Walau kalah dalam kecepatan, YunJi masih bisa menyerang walau sedikit meleset. Tidak sedikit memang luka bakar ditubuhnya. Namun luka goresan dan bakar di tubuh Minho jauh lebih parah dari YunJi.

             Minho mengatur nafasnya yang seakan mau putus. Tangan kanannya benar-benar sudah tidak berfungsi lagi. Luka tusukan tepat di tulang belikatnya membuat rasa nyeri yang tak tertahankan ketika digerakkan. Minho menatap YunJi. YunJi sangat kacau. Tembakannya semua meleset. Tapi dia tau kalau YunJi belum mengeluarkan semua tenaganya. YunJi belum bisa menyelaraskan tubuhnya dengan tenaga itu. YunJi belum mengetahui rahasia besar itu.

            “Kau kenapa? Ingin menyerah?” tanya Minho, sekedar basa-basi agar dia bisa menyembuhkan luka di tangannya. YunJi tersenyum bengis. Tampak belum mengerti.

            “Kau yang kenapa? Takut dikalahkan oleh yeoja, eoh?” tanya YunJi balik. Minho tidak menjawab karena masih sibuk mengatur nafasnya.

            “Ne” jawaban Minho, yang benar-benar tidak pernah dipikirkan oleh YunJi “Aku tidak menyangka yeojachingu-ku yang manis dan lugu, sekarang berada dihadapanku dengan jari-jari yang panjang dan runcing, dan siap membunuhku sewaktu-waktu.” akhir Minho. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi, suaranya benar-benar menunjukkan kekecewaan yang sangat dalam. YunJi meringis. ‘Namja ini benar-benar sulit ditebak’ batinnya.

            “Dunia sudah berubah, yeoja-mu pasti sudah mati karena keluguannya itu. Dia pasti tidak sanggup melawan kerasnya dunia.” jawab YunJi. Nada suaranya sudah berkurang, tapi kewaspadaannya tidak berkurang sedikitpun.

            “Jinjja? Ohm…” kata Minho tidak jelas, lalu tiba-tiba perhatian YunJi terusik oleh teriakkan Jonghyun dan Jinki

            “AWAS DIBELAKANGMU!!!” dan seketika rasa panas menjalar di tengkuk YunJi.

            “Kalau begitu akan kubuat dia hidup kembali!!!” ujar Minho lalu memukul tengkuk YunJi. Kini tidak ada lagi sedikitpun kebimbangan dihati Minho. Ia tahu di hadapannya memang YunJi, tapi dia juga tahu bahwa jiwa di dalam sosok itu bukanlah YunJi. Jadi dia tidak perlu ragu lagi untuk ‘menghabisi’ mahluk itu.

            “Argh! Oppa nappa! Apha!” tanpa sadar YunJi memekik halus. Ketika menyadari apa yang barusan dikatakannya, dia menutup mulutnya dan kembali menyerang.

            ‘Astaga! YunJi!! Pusatkan pikiranmu! Serang dia! Kau adalah Ratu Agung! Ratu yang Agung tidak boleh lemah!’ batin YunJi. Amarahnya yang membubung tinggi membuat tembakan-tembakan dan serangan yang digencarkannya semakin akurat. Namun karena kesehatan Minho sudah pulih, Minho dapat menandingi YunJi dengan sangat mudah. Jonghyun dan Onew berpandangan bingung. ‘Ini pasti menjadi pertandingan yang sangat panjang. Sang-at-pan-jang!’ batin keduanya.

***

             Key mengatur nafasnya yang mulai memburu. Tubuhnya sudah tidak berdaya. Kamar yang tadinya terlihat rapi dan kosongpun sudah tak berbentuk oleh cakaran dan baku hantan selama satu jam yang lalu. Dia mengusap darah di ujung bibirnya. Namun matanya tak lepas dari pertarungan hebat antara Krystal dengan Jessica. Awalnya Key ketakukan dan berusaha melindungi Jessica dari cengkraman Krystal. Tapi sekarang dia tahu Jessica datang untuk menyelamatkannya. ‘Tapi aku tak boleh harus terus diam, aku harus membantunya.’ batin Key. Dia melihat sekeliling. Berharap ada sesuatu yang bisa digunakannya untuk melukai Krystal. Namun nihil! Tidak ada perabotan rumah satupun disini! Key meremas rambutnya frustasi. Ia tahu diri dan tidak mungkin menghajar Krystal–mengingat tadi dia sempat dihajar habis-habisan. Namun bukan Key kalau dia tidak bisa menyelesaikan masalah yang menyangkut dirinya. Dia menarik seprai yang sudah kusam itu lalu menggulungnya. Dibungkusnya tubuh mungil Krystal dan mendorongnya berkali-kali ke arah pintu. Setelah merasa tak ada perlawanan dia mendorong tubuh itu ke arah jendela,

            “Key! Awas dibelakangmu!!!” teriak Jessica mengalihkan perhatian Key. Key menoleh sesaat dan menyadari bahwa sosok Krystal telah berada dibelakangnya–dengan tangan kanan berada di atas. Key berusaha menghindari serangan Krystal, tapi tulang Krystal telah memanjang terlebih dahulu dan memukul bahu sebelah kirinya.

            “Aarghh~!!” erang Key saat tulang Krystal menyapu bagian tubuh sebelah kirinya. Darah segar kembali mengalir di tangan kirinya. Key berusaha menghindari Krystal, namun –lagi-lagi dia kalah cepat dari Krystal yang sudah berada dibelakangnya. Jessica meningkatkan keawasannya. Dia tahu Key sedang dalam masalah besar.

            “Krystal! Enough!! Oke? Apa maumu?” ujar Jessica sedikit menahan amarah akibat perlakuan Krystal –yang masih– menjilati bahu kiri Key yang terus mengeluarkan darah segar,

            “Darahmu benar-benar enak. Manis sekali… Pantas onnieku menyukaimu…” ujar Krystal lirih, dia menghembuskan nafas pelan di telinga Key, membuat rasa takut dan sakit Key menjadi-jadi. Blaashh~

Krystal terkejut saat beberapa bongkahan es mengarah ke wajahnya. Dia memang bisa menghindar, tapi tetap saja tangan kirinya agak sedikit terlambat sehingga tertancap satu es itu. Dan menyebabkan darahnya –darah kental berwarna kehitaman mengalir. Kontras sekali dengan es yang menancap di tangannya.

            “Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu saeng. Kau sudah benar-benar membuat Onnie marah!” ujar Jessica, bola matanya berubah menjadi biru langit. Urat-urat dengan warna serupa bermunculan di sekitar mata dan tangannya. Rambutnya kian memucat, menandakan amarahnya yang sudah tak tertahankan. Lalu dari tangannya keluarlah es-es yang ujungnya meruncing. Bahkan karena saking runcingnya terdapat kilatan-kilatan dari es tersebut, “Le..pas..kan dia! LEPASKAN DIA KRYSTAL!!” teriak Jessica lalu tiba-tiba berlari, dan dalam sekejap dia sudah berada di depan Krystal sambil menusuk-nusukkan es-es tersebut secara brutal kearah perutnya. Darah hitam kental mulai mengalir lagi dari luka-luka yang dibuat Jessica. Bau busukpun mulai memenuhi ruangan ini, namun Jessica terus-terusan menusuk Krystal sampai akhirnya Krystal terjatuh terduduk dengan darah hitam yang mengalir melalui sudut-sudut bibirnya. Dia menatap nanar kearah Jessica dan aku bergantian.

            “Onnie..on…onnie, kau…aargh.. tega melakukan ini p…padak.khu?” ujarnya pelan sebelum terbatuk-batuk dan menghilang.

            “ANI! A-apa apa yang kulakukan?! ANI! ANIO!! KRYSTAL!! MIANHAE~ KRYSTAL JANGAN PERGI!! KAJIMAA! KRYSTAAAL!!” teriak Jessica menjadi-jadi saat kesadarannya mulai pulih. Ketika dia menyadari dia telah membunuh yeodongsaeng-nya sendiri.. “SHIREO! Shireo~ Shireooo~ Kajimaaa Krystal! Kajimaa.. Mianhae, hikshiks..” ujar Jessica sambil memukul-mukul pelan lantai kayu tempat Krystal tersungkur. Air matanya terus meleleh menjadi butiran-butiran salju. Aku memeluknya, mendekapnya. Mencoba berbagi kesedihan. Semua karena aku. Karena aku lemah.

            “Mianhae Ssica. Karena aku kau kehilangan… Kke..kehilangan dia~” aku membelai rambut halusnya pelan. Tubuhnya masih bergetar hebat. Dadaku mulai membeku..

            “I-ini… ini semua salahku! SALAHKUUU~!” teriaknya, butiran salju semakin banyak menutupi kedua pipi Jessica. Matanya yang memerah mulai membengkak, aku mengusapnya pelan.

            “Krystal baik-baik saja… I trust it… Can you?” ujarku pelan sambil menatapnya lembut. Setelah cukup lama bertatapan, diapun menghapus sisa butiran salju dari matanya dan tersenyum.

            “Ne, I trust you Key. Always~” katanya lalu menunjukkan deretan gigi putih bersih senada dengan warna kulitnya. Dan entah apa yang terjadi, kurasa aku telah mabuk… karena, yah. Aku menciumnya… Oh tidak~

***

            “Key!” teriak suara yang cukup familiar di telingaku. Aku menoleh untuk memastikan, dan ternyata benar. Onew hyung sudah berdiri di belakangku –dengan tangan terlipat di dada dan senyuman khasnya. “Apa kau sudah bangun? Bagaimana mimpimu? Mimpi indahkah? Hahaha” serunya sambil tertawa. Ingin sekali aku menghajar wajah itu kalau Jessica tidak menahanku. “Oh~ Jessie apa yang kau lakukan disini? Apa kau mencari Key? Bukankah kau sudah diputuskan oleh dia? Hahaha, kalian benar-benar pas~”

            “Sejak kapan kau begitu cerewet Onew? Di mana Minho dan Taemin!!” potongku. Aku menatapnya tajam, tapi dia hanya mengidikkan bahunya

            “Taemin aku tidak tahu… Tapi kalau Minho…” dia menoleh ke belakang “Cah Yo YunJi-ah! Hwaitiiiiing~!!” teriaknya tiba-tiba, aku membelalakan mataku tak percaya. YunJi?

Tanpa berpikir dua kali, aku segera berlari menuju ruang tengah… Mataku makin membelalak saat menyadari apa yang di katakan Onew hyung benar.

            “YunJi!!!” teriakku spontan membuat YunJi menoleh kepadaku –dan sialnya- Minho memakai kesempatan itu untuk menusuk punggung YunJi.

            “AAARRGHH~!” pekik YunJi, aku berlari menghampirinya, darah yang keluar banyak sekali.

            “Minho! Kenapa kau tega sekali!! Dia ini yeojachingu-mu bukan?” bentakku. Aku menarik YunJi kedalam bekapanku. Lalu aku mengambil kain yang tergeletak tak jauh dari sana dan mengikatnya di punggung YunJi. “Aaargh…” teriakku saat aku merasakan sesuatu yang tajam mencium punggungku. Aku menoleh dan ternyata malah menemukan tangan YunJi yang berlumuran darah –darahku. “YunJi! Ap…Apa..”

            “Gracias Kibum. Tapi aku tidak membutuhkanmu. Dan kalau bukan karena kau aku tak akan seperti ini! Dasar manusia bodoh!” katanya sinis. Hey! Kenapa seakan-akan aku melihat Krystal disini?

            “Kau kenapa YunJi-ah? Apa yang salah denganmu?” tanyaku sedikit ragu, antara menahan sakit dan ingin tahu. Namun ternyata tubuhku tak sanggup lagi mehanan. Seketika semua gelap

***

            “Key~ Kau baik-baik saja?” tanya Jessica saat aku mulai sadarkan diri. Aku mengerang kesakitan. Di mana aku?

            “Ssica? Dimana aku?” ujarku pelan. Ssica hanya menghela nafas kasar lalu menggeleng.

            “Dimanapun ini. Kau harus istirahat.. Sekarang tidurlah, aku akan menjagamu.” dia mendorongku agar kembali berbaring.

Aku kembali berbaring, tapi mata melihat liar ke sekeliling ruangan ini. Ruangan yang didominasi oleh warna ungu ini jelas bukan salah satu kamar yang ada di rumah sakit. Lagi pula bau obat yang menusuk tidak tercium sedikitpun disini. Sebeenarnya dimana ini?

            “Ratu, ini obatnya… Kau cukup mengoleskannya tipis di lukanya Ratu…” ujar suara sayup-sayup. Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan berpandangan dengan mahluk aneh berwarna kebiruan. Dia menatapku terkejut dengan kedua matanya yang besar dan bulat. Selera berpakaiannya aneh sekali.

            “Key… Kau tahu sekarang bukan? Kemana tempatku pergi saat namja pemabuk itu membuatku muak?” tanya Jessica sambil mengoleskan lukaku.

            “Hm-mm, tempat ini bagus, aduuuh~ tapi kenapa kau masih tetap tinggal dengan namja itu Jessica?” tanyaku, dia tersenyum miris..

            “Apa kau lupa? Aku membuang banyak waktu untuk mencari namja babo itu. Dan aku harus membuatnya membayar semua penyesalanku. Apalagi setelah aku tau dia juga yang membunuh ibuku dan menjual aku serta Krystal untuk melunasi hutang-hutangnya, Ini bukan sekedar penyesalan saja. Tapi ini balas dendam!” ujarnya. Matanya menyala-nyala api. Tapi jari-jarinya membuat obatku menjadi sebuah cermin kasar. Waw, tanpa kusadari… Akulah yang paling lemah disini?

            “Kau tidak bisa begitu… Bagaimanapun dia appamu. Yahh, walau aku juga kurang menyukai ayahku, tapi aku tetap menghargainya.” kataku perlahan. Inilah yang tidak kusukai dari Jessica. Dia bukanlah tipe orang yang melupakan apa yang telah terjadi. Dia selalu mengingat semua hal yang terjadi padanya. Sehingga dia selalu sangat berhati-hati terhadap apapun yang terjadi padanya.

            “Yasudahlah.. Apa kau sudah sembuh? Aku ingin membawamu ke sebuah tempat…” ujarnya berusaha mengalihkan pembicaraan… Aku menggenggam tangannya dan mengangguk.

            “More better. Eodi?” tanyaku dengan senyumku. Namun dia hanya membalas dengan jentikan tangan. Hey! Dimana aku?

***

~Minho POV~

Aku sudah benar-benar terdesak. Sial! Lagipula dimana Key? Dimana Taemin? Aish!! Kalau begini caranya aku bisa mati!

BRRAAAKKKK!
Ini sudah kesekian kalinya aku menangkis pukulan atau tembakan dari YunJi, namun sayangnya aku kurang beruntung kali ini. Pecahan dari benda tangkisanku menggores daerah leherku. “Argh~” pekikku tertahan… Tenagaku sudah terkuras. Aku benar-benar letih saat ini. Namun YunJi tidak sedikitpun menunjukkan ada keletihan pada dirinya. Aku harus menyusun rencana… Aku tidak ingin mati konyol. Setidaknya tidak ditangannya.

             Aku mengedarkan pandanganku… Api. Aku butuh api. Sekecil apapun itu. Mataku terus was-was mencari api dan berjaga apabila YunJi menyerang. Lalu sebuah kilatan tertangkap di mataku. Pematik api!

Tak kusadari sebuah senyum mengembang dibibirku. Sekarang aku hanya perlu memutar otak agar aku bisa mengambil pematik itu tanpa sepengetahuan YunJi.

            “Apa yang kau pikirkan Minho?” bisik seseorang di belakang tengkukku. Sedetik kemudian kurasakan dingin membekukan tengkukku.

            “YunJi~” geramkku, kenapa aku tidak menyadarinya? Aku melakukan gerakan memutar, lalu menendangnya. Dia tertawa puas dan berkata,

            “Hahaha… Seandainya kubekukan semua kepalamu, apa kau masih bisa menendangku, Choi Minho~?” tanyanya –atau lebih tepat ejeknya, dia menarik tangan kanannya dari jubah yang panjang, lalu selang beberapa menit kuku-kukunya mulai memanjang dan menjadi es. Begitupula tangannya terselimuti oleh es hingga benar-benar mengkilap. “Kudengar, api bisa dikalahkan oleh air… Aku ingin mencobanya,” ujarnya sambil mengeluarkan seringaian yang mengerikan. Oh Tuhan, aku harus cepat-cepat mengambil pematik itu!!

***

            “Aarrrrrghhhh!!” teriakku untuk yang kesekian kalinya… Badanku sudah benar-benar mati rasa, sudah banyak biang-biang es menempel di badanku. Tapi, aku masih belum mendapat kesempatan untuk mengambil pematik itu. DUAAKK
            “Arrghh~!!” kali ini YunJi benar-benar ingin membunuhku, bongkahan besar biang es dilemparkan kearahku, sehingga aku terpelanting cukup jauh. Sial, badanku benar-benar… Eh? Apa ini?? Aku melirik tangan kananku yang terasa kembali berfungsi. Pematik api!!! Secepat kilat aku menggenggam pematik itu dan menghirup apinya. Kurasakan percikan-percikan api melewati aliran darahku, bagaikan menghirup udara segar ditengah kepulan asap. Rasanya seluruh sakit ditubuhku hilang. Aku kembali berdiri, kurasa aku sudah siap untuk melanjutkan pertandingan ini.

            “Wae? Hahaha… Apa kau sudah mengaku kalah?” tanya YunJi sinis. Aku benar-benar ingin berteriak kepadanya, ‘Kembalikan YunJi-ku’, tapi aku yakin dia malah makin merasa berkuasa. Aku mengepalkan tanganku. Memusatkan kembali pikiranku. Ini adalah senjata terakhirku. Atau aku akan kalah.

Aku menarik nafasku dalam-dalam. Ingat Minho, kau harus konsentrasi. Kumpulkan semua kenangan pahitmu, kumpulkan semua amarahmu. Kumpulkan! Buat seakan-akan kau akan meledak. Konsentrasi. Konsentrasi.

~Jessica POV~
            “Ada apa ini? Di mana? Kenapa panas sekali??” tanya Key secara beruntun saat aku kembali membawanya ke villa. Gawat! Sepertinya aku terlalu lama meninggalkan mereka berdua. Apa yang terjadi dengan Minho? Apakah dia sudah tidak ada? “Ssicaa~~ Panas sekali di sini…” rajuk Key, wajahnya sudah benar-benar merah. Tanpa kusadari, tangankupun mulai mencair. Aigoo, eottokhe? Aku harus menolong Minho. Tapi aku juga tidak bisa mendekat jika suhu sepanas ini… Apa yang harus kulakukan??

            “Ssicaa~~”

            “Ne~ Ayo kita keluar.” Mian Minho… Percuma juga kalau aku bertahan di sini. Yang ada nyawa kami harus terenggut.

            “Kajja~!!” teriak Key, kamipun berlari menuju pintu luar. Dan setelah beberapa langkah kami keluaar, BOOOOMM

Sebuah ledakan yang sangat keras membuat villa itu menjadi puing-puing.

Benar-benar puing…

            “Minho!” ucapku tak percaya… Key yang mendengar ucapanku pun melihat ke arah yang sama “Minho!! Aniyo! MINHO! TAEMIN!!!” teriak Key lalu berlari ke arah puing-puing itu.

Namun saat kami hendak berjalan mendekati villa, sesosok yeoja yang kami kenal tersenyum sinis ke arah kami.

Sesaat kami tercekat. Tak ada yang berbicara, seakan waktu berhenti berputar. Apa yang terjadi? Wae?

            “K-k-kau? Apa yang kau lakukan disini…” ujar Key yang terputus –karena dia sudah berubah menjadi batu.

            “Sekarang tinggal kita berdua bukan, Jess… Anio, Soyeon?” ujarnya dingin, lalu mengeluarkan senyum sinisnya lagi.

Omo… Apakah ini giliranku? Key, I’m sorry~

~T.B.C~

I’m bacccccccckkkkkk~~~!! Hehehehe ^^V Mian, kalau ada yang membaca ff abalku ini. Aku benar-benar sibuk dengan tugas-tugasku… Entah kapan guru bosan dengan memberikan tugas -3-

Maap yaaa maap… bener2 gak diharapin banget. Udah lama ceritanya gak menarik pula…Bahkan mungkin part 6 juga ngaret.. Biasalah, penulis sangat amatir. Hehehe…. Jeongmal jeongmal jeongmal mianhae *bow

Iklan

FF/REMEMBER/04

Title      : /Remember/04/

Genre   : Apa ajalah suka2

Author  : Song Hae Yoo

Length  : Sequel

Rating : General

 

Main Cast : Han Yun Ji

Kim Kibum

Support Cast : Other SHINee Member

Park Sun Young

E.t.c

A.N : Mian kalo istilah2 disini pasaran. Karena sejujurnya aku tak sanggup *halah, apadeh* sejujurnya, istilah2nya kubrowsing di i-net XPP

 

~YunJi POV~

“Annyeong YunJi-ah” seru sebuah suara bariton membuatku bergidik “kami mengganggu?” Tanya orang itu lagi sambil tersenyum. Begitupula orang yang berada di sebelahnya. Jonghyun

“Ada perlu apa kalian kemari?” tanyaku dingin tentu saja berpura-pura dingin. Jonghyun hanya menyeringai lalu menarik tangan kananku

“Benar hyung. Lihat!” seru Jonghyun lalu menunjukkan garis hitam ditanganku. Aku menarik tanganku, apa? Apa yang benar?

“Sepertinya kami terlambat oleh Krystal, tapi biarlah… Yang penting kami sudah menemukanmu, Han YunJi…” seru suara bariton itu lagi lalu tersenyum, “ikut kami!” serunya sambil menarikku.

BLUSHH
Tiba-tiba disekitar kami berada di depan sebuah kastil tua, dengan 4 menara yang sudah tak terurus. Benar-benar mengagumkan.

“Nona, seharusnya kau tidak terlalu banyak bergaul dengan faery,” seru jonghyun membuatku memandangnya bingung. Faery? Apa itu?

“Manusia. Manusia tanpa kelebihan itu adalah faery nona… Manusia yang membantu-Nya melawan kita. Dengan kata lain, faery adalah musuh kita. Dan Mortal tidak boleh berteman dengan faery terlalu jauh.” Jelas namja dengan suara baritone tadi yang sekarang kutahu namanya Jinki. Hei! Bukankah mereka member SHINee?? Tanyaku bingung

“Dan biar kutebak… Kalian dan –aku, mortal?” tanyaku bingung bercampur ragu, mereka hanya tersenyum dan menggeleng.

Mortal hanya ada 2 dari setiap kerajaan. Dan disini ada 4 kerajaan, Kerajaan utara, barat, timur, dan Selatan. Kita ada di tengah-tengah kerajaan selatan  dan barat, namun semenjak ahli waris sebelumnya, kerajaan kita bisa maju sendiri dan ditakuti dengan kerajaan-kerajaan lain –termasuk kerajaan utara. Namun sayang kerajaan kita –kerajaan agung- selalu dianggap musuh…-“

“So?” tanyaku mulai bosan, Jonghyun berdeham pelan dan mengambil ahli

“Kami fey, pengawal kerajaan. Pengawal mortal. Dan kau adalah mortal-nya Han YunJi. Atau bisa kami panggil Sonchav.. Mortal kerajaan agung.” Ujarnya sambil berlutut di hadapanku. Aku melotot kaget. Bukan karena perlakuannya tapi karena perkataannya. Aku? Seorang mortal?

“Jangan bercanda! K-k-kau pikir kau bisa membohongiku?! Ak-aku tahu kalian adalah member-member SHINee kan?” kataku sambil melangkah mundur. Jinki hanya tersenyum

“Hanya mortal Kerajaan Agung yang dapat membuka buku itu. Buku yang telah diikat oleh darah Sorcartv… Mortal sebelummu.” Ujar Jinki. Seringaian tercetak jelas di bibir tipisnya. Aku menatap buku yang ada digenggamanku sekarang. Ini hanya sebuah buku tua dengan sampul dari kulit hitam dan ditutup dengan… dengan… dengan c-cap me-rah?

“Hehehe… Hyung, walau kau sangat agresif, sepertinya ucapanmu berpengaruh. Dan melihat wajahmu yang pucat ini, sebaiknya kita pulang.” Seru Jonghyun lalu detik berikutnya kami sudah berada di kamarku “lebih hebat dari pintu ajaib doraemon bukan?” guraunya lalu menghilang. Tentu saja dalam hitungan detik.

***

OK. Aku mulai bingung. Apa hubungannya, kerajaan, mortal, fey dengan Krystal? Dan… mengapa aku tiba-tiba terlibat ini? Kenapa aku harus melihat masa lalu Krystal? Dan ada dimana dia? Kenapa dari tadi dia tidak menghantuiku dengan kenangan-kenangan masa lalunya yang pahit itu?

“Krystal, itukah kau?” tanyaku saat mendengar gemeresak ranting di dekat jendelaku, namun saat kusibakkan gorden yang menghalangi, itu hanya suara ranting dan angin yang menandakan sebentar lagi hujan turun. Dan, hey! Kenapa aku malah berharap dihantui olehnya? Aku berharap menemui hantu? Waw… That’s funny!!

“Uughh!” tiba-tiba aku merasakan kepalaku berdenyut-denyut hebat. Ada apa ini?

“YunJi!! Ada temanmu datang…” seru umma dari luar, aku hanya menggumam pelan dan berusaha terlihat cerah. Kuturuni tangga dan melihat ada Key, Minho, Jonghyun, Jinki, serta Jesicca. Sesaat aku merasakan sakit kepala yang luar biasa. Kulihat Minho dan Jonghyun terus tersenyum kepadaku.

“H-hai…” kataku serak. Jesicca tersenyum. Aku membalas senyumnya dan tersenyum ke semuanya

“Kau sakit?” tanyanya sambil menyentuh dahiku. Seketika aku merasa sebuah sengatan di dahiku. Segera kutepis tangannya dan memekik kecil. Minho yang terkejut dengan perlakuanku hanya membesarkan matanya tanda terkejut. Sementara Jonghyun tersenyum kepada Jinki dan berbisik ‘sudah bekerja’

Dan sekarang ada satu pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan. Mengapa harus aku yang menjadi seorang mortal?

“Sepertinya dia sedang tidak enak badan, lebih baik kita biarkan saja dulu. Biar dia bisa istirahat. Dan lagipula, tidak enak meninggalkan Taemin sendirian di dorm terlalu lama. Aku takut dia marah” sahut Jesicca mencoba mencairkan keadaan. Aku hanya tersenyum dipaksakan dan mengangguk. Akhirnya dengan berat hati –sepertinya sih, mereka meninggalkan rumah umma, dan aku sendirian. Setidaknya sampai aku mendapatkan sebuah jawaban yang masuk logika dari pertanyaanku tadi.

“Umma… Buatkan aku teh dong, sepertinya aku terkena flu.” Ujarku sambil menggosokan hidungku. 15 menit kemudian umma datang dan membawakanku teh hijau hangat serta beberapa camilan. Namun apes, karena umma tersandung dan oleng “Stooooooooooooopppp!” teriakku sambil menutup mata, berusaha melindungi mataku dari siraman teh hangat itu. 1 detik, 2 detik, 3 detik, tak kurasakan basah sedikitpun di tubuhku, dengan perlahan aku membuka mataku, dan kulihat umma yang terlihat oleng, makanan yang melayang. Serta tumpahan air teh yang seolah membeku. Walau sedikit bingung, aku memungut camilan itu kembali ke piring, teh kumasukkan lagi ke gelas, umma ku dirikan kembali, lalu setelah aku merasa tidak ada yang pecah ataupun terluka, aku menutup mataku lagi

“YunJi awaaas~~!” teriak umma bingung, aku sudah berada di kasurku sementara umma masih di depan pintu kamarku.

“Awas kenapa umma?” aku terkekeh, sementara umma hanya menggeleng-geleng tanda tak mengerti.

Hem… Kurasa aku mulai menyukai ini.

***

Hari ini Jonghyun dan Jinki datang lagi ke kamarku. Lagi-lagi mengajakku ke kastil tua itu –kerajaan agung-ku. Tapi entah mengapa aku tak pernah nyaman berada di sini.

“Mungkin kau belum terbiasa nona. Tapi aku yakin, sebentar lagi kau pasti terbiasa.” Seru Jonghyun lalu mengeluarkan seringaiannya lagi. Begitu pula Jinki.

Hey! Bisa kalian berhenti? Ini membuatku mual. Heuh~

~YunJi POV End~
~Minho POV~

Hari ini aku berkunjung lagi ke rumah PhilSuk. Hari ini Key sedang pergi dengan Jesicca, Onew dan Jonghyun hyung, entahlah… mereka pergi kemana. Sementara Taemin, dia sekolah sampai malam nanti.

Heuh, Terkadang aku merindukan pergi ke kampus.

“Annyeong haseyo, PhilSuk-nya ada?” tanyaku sopan, namun ibunya PhilSuk hanya menatapku bingung, aku mengulang pertanyaanku “PhilSuk-nya…”

“Tidak ada yang bernama PhilSuk di sini. Adanya YunJi. Han YunJi.” Seru ibunya lalu membuatku melotot, sesaat otak sebelah kananku terasa kaku –atau mungkin keram? Entahlah, rasa sakit ini membuatku malas untuk berpikir…

“AAARRGHH~” teriakku saat sesuatu seperti ‘menggerogoti’ otak kananku, lalu terakhir kulihat adalah 3 sosok yang kukenal. Onew hyung, Jonghyun hyung, dan … entahlah, semua sudah gelap.

***

“Uuugh~” desahku saat membuka kedua kelopak mataku, langit-langit berwarna putih dan bau obat yang menusuk masuk ke dalam hidungku, membuatku berpikir pasti ini bukan dorm. Tapi pasti ini rumah sakit.

“Hyung kau sudah bangun?” tanya Taemin dengan mata sembabnya. Aigoo~ terkadang aku bingung, sebenarnya Taemin itu namja atau yeoja? Kenapa perasaannya sensitive sekali?

“N-ne Tae, gwaenchanayo.” Ujarku sambil tersenyum, dia balas tersenyum dan keluar. Beberapa detik kemudian terdengar suara gaduh diluar, dan diikuti kemunculan 7 wajah yang sangat familiar menurutku.

“Aigoo! Minho! Kau ceroboh sekali… Kenapa kau bisa pingsan di depan…” papar Key hyung, yang tidak kudengar sepenuhnya, karena sekarang perhatianku tercurah seutuhnya ke seorang yeoja yang sepertinya sangat mencemaskan keadaanku.

“YunJi-ah” panggilku serak namun berhasil membuat Key mengunci mulutnya. Berhasil membuat ruangan ini sunyi senyap “ap-apa kabar? Chagy?” tanyaku sedikit ragu karena bukannya senang, YunJi malah hanya menatapku bingung, lalu menatap Onew hyung dan Jonghyun hyung bergantian.

“A-a-ah, annye-annyeong Minho-ssi” serunya sambil membungkukan tubuh.

Melihat ini Key menarik hyung-hyungku dan Taemin –beserta manager yang sadar diri- untuk keluar dan memberikanku dan YunJi sebuah ruang prifacy. Aku bangun untuk duduk dan menepuk-nepukankasur di sebelah kananku –bermaksud untuk menyuruh YunJi duduk di sini. Namun sepertinya YunJi tidak menyadari karena akhirnya dia mengambil kursi didekatku dan duduk disana *wah so deep be-ge-te itumah*

“Mwo?” tanyanya sedikit ketus, apa dia marah? Aku meraih tangannya, namun dia menepisnya. Aku menatapnya sebentar –walau dia tidak menatapku- aku memejamkan mataku dan menghembuskan nafasku pelan, berusaha menurunkan emosiku yang sudah naik. Lalu menarik tangannya lagi.

“Naega… Mianhaeyo~”*lirik.com XD* ucapku lirih, aku beranjak dari kasurku dan berlutut di hadapannya, berusaha mendapat kontak mata dengannya. “Mianhae… Aku, aku, aku tidak tahu kau akan percaya atau tidak. Namun saat aku sedang training, terjadi sebuah kecelakaan kecil, dan aku melupakan sebagian ingatanku. Sungguh! Aku tidak ingin melupakanmu hanya saja~” aku mengeratkan genggamanku ditangannya. Dia masih memalingkan wajahnya dari wajahku.

“A-aku…” jawabnya. Aku masih memandangnya penuh harap. Sambil terus memanjatkan doa. Berharap dia memaafkanku karena aku telat menemuinya. Bahkan aku tak merayakan ulang tahunnya bersamaku. Akhirnya setelah beberapa lama hening, diapun menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum, dan seketika –rasanya seluruh sakit di tubuhku hilang. Aku tersenyum, mengeluarkan seluruh karismaku. Berusaha membuatnya tidak berpikir untuk merubah jawabannya *tenang Ho, gua bakalan setia ko milih lo XD*

***

“Jadi kau sudah ingat semuanya Minho?” tanya Key sambil menatapku was-was, aku mengangguk sekuat tenaga. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala “bagaimana bisa kau dibilang flaming charisma tapi berkelakuan seperti anak kecil? Menyedihkan sekali…” serunya mencemooh. Aku hanya mencibir pelan dan menatap kedua hyung-ku

“Hyung, kalian tadi ke rumah YunJi kan? Ada apa?” tanyaku, tiba-tiba YunJi, Onew dan Jonghyun hyung tersentak. Aku, Key Hyung, Taemin dan Manager menatap mereka terus, hingga akhirnya Onew hyung mengambil alih pembicaraan

“Ehm.. Se-sebenarnya, Ibunya YunJi, pelanggan setia tokoku, dan kemarin aboeji menyuruhku mengirim beberapa daging untuk ucapan terima kasihnya. D-dan, aku meminta Jonghyun mengantarku.”

“Kenapa Jonghyun? Bukankah kau selalu memaksaku? Bahkan saat aku berkencan dengan Sicca.” Kali ini Key yang berbicara. Sekilas aku melihat bayangan seorang yeoja yang tersenyum sinis diantara Onew dan Jonghyun hyung. Aku menajamkan penglihatanku, tiba-tiba yeoja itu semakin jelas dan berkata…

“Minho! Kau kenapa?” teriak YunJi membuatku kembali ke alam sadarku.

“Eh? Mwo? G-gwaenchana…” kataku. “Sudahlah, lebih baik kita pulang.”

***

S**t! Sejak ‘penampakan’ di rumah sakit itu, aku tidak bisa melupakan wajahnya sama sekali. Masa iya aku benaran melihat hantu? Walau memang aku pernah ingin sekali melihat hantu. Tapi… yah, aku tidak pernah berharap itu membuatku sangat penasaran seperti sekarang, bukan ketakutan seperti orang-orang bilang *anjrit, Minho strong euy! XD*

‘Minho…’ panggil sebuah suara, suara seorang yeoja. Aku membalikkan badanku ke arah jendela. ‘Sesosok’ yeoja yang kutemui di rumah sakit itu melayang-layang di tengah jendela kamarku. ‘boleh aku masuk?’ tanyanya serak. Tiba-tiba, seperti tersihir aku membukakan jendelaku dengan patuh. Lalu dia masuk dan melayang-layang, membuatku kagum. Untungnya wajahnya tidak cacat sedikitpun, bagian tubuhnya –pun masih lengkap, hanya kebiasaan melayangnya membuatku menyadari kalau dia tidak berada di duniaku.

‘Apa kabar Mortal Kerajaan Utara?’ ujarnya santai sambil tersenyum. Aku menatapnya bingung. Apa maksudnya? ‘Minho~ Kapan kau pulang huh? Ratumu sudah kewalahan dengan sikapku. Ha-ha-ha-‘ ujarnya lagi. Membuatku makin mengerutkan dahi. ‘Tapi tenang saja. Fey mu akan selalu menjaganya. Dan aku… Karena kurasa aku menyukaimu. Aku akan mengganggu Mortal kerajaan Agung itu sementara. Sampai kau siap dan berani melawannya’ ujarnya sambil terbang mengelilingi kamarku.

“Tunggu! Apa maksudmu dengan Mortal? Fey? Dan Kerajaan? Dan siapa lawanku yang akan kau ganggu?” tanyaku beruntun. Yeoja itu tertawa sinis “dan… Nuguya?” tanyaku saat menyadari aku tidak mengenalnya sama sekali.

‘Apakah aku harus memperkenalkan diriku dulu? Choneun Krystal Jung Imnida. Fey perang kerajaan Kegelapan. Fey perang saudaramu, Choi Sooyoung dan Choi Minseok*aduh makin banyak aja castnya*.’ AKu menyerenyitkan dahiku. Minseok hyung? Apakah itu benar?
Aku berusaha menanyakan informasi lebih lanjut, namun kulihat jendelaku telah terbuka dan dia sudah menghilang. Yeoja yang aneh!

***

“Minho.. Hhhhh.. Aku sudah putus dengannya” seru Key saat berpapasan denganku. Aku yang memang terbiasa minum air setelah bangun tidur hampir saja memuncratkan air putih yang baru saja ingin masuk ke dalam kerongkonganku.

“Mwo? Bukankah kalian saling mencintai?” tanyaku sambil mengusap bibrku. Key mencibir kesal, dia mengambil gelas dan mengisi dengan air

“Mollayeo! Dia selalu mrngajakku untuk menemui adiknya yang sudah meninggal.. K-kry-kris,”

“Krystal?” tanyaku, Key menaikkan alis kanannya. “A-a-ku, aku hanya menebaknya.” tambahku lagi, Key semakin menaikkan alis sebelah kanannya. “Ya! Wae?!” tanyaku, tanpa kusadari, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat

“Darimana kau tau Krystal? Dan, Hei! Sejak kapan kau menggigit bibir seperti itu? Minho?!” tanyanya sedikit cemas, aku tersentak saat merasakan perih di bibirku.

“Gwaenchana, hyung. A-aku, tiba-tiba aku mengantuk!” akupun pergi tanpa mendengarkan jawabannya lagi.

***
‘Minho, gwaenchana?’ tanyanya sambil menyentuh pipiku, sesaat aku merasa ada sengatan kecil di dalam aliran darahku.

“Ne. Gwaenchana” seruku lalu menepis tangannya. Tangannya hangat sekali. Aku menatap matanya. “Krystal, apa… kau tidak merindukan kehidupan sebagai manusia?” tanyaku tiba-tiba. Entah mengapa, aku merindukan kehidupanku sebagai manusia. Manusia biasa… Merindukan saat-saat aku duduk berdua dengan YunJi. Hei! Bahkan aku sudah lama tidak mencari tahu kabar YunJi. Kenapa kau belum menghubungiku juga?
‘Jangan pikirkan dia lagi! Bisakah kau melupakannya?!’ seru Krystal tiba-tiba, aku tersentak. ‘Jangan … Pikirkan… Dia… Lagi!’ seru Krystal lagi, kali ini dengan penekanan di tiap katanya.

K-Kristal?? Ada apa ini? Kenapa tubuhnya tiba-tiba diselubungi cahaya keemasan? Dan kenapa aku merasa ini adalah bahaya?
~Minho POV End~
~YunJi POV~

Aku menatap televisi malas. Baru saja SHINee menyelesaikan perform-nya. Baru saja aku melihat ketampanan namjachinguku –setidaknya begitu-. Tapi aku tidak merasa apa-apa. Maksudku, yaah setelah mendengar bahwa aku dan Minho tak kan pernah bisa bersatu, tiba-tiba perasaanku padanya hilang. Aku tak lagi mengharapkannya, menginginkannya. Kenapa ya?

SIIIIIIINNNGG~

“Aaargh! Apha! Jinjja! Apa yang terjadi?” sungutku sambil memegang kepalaku, rasa sakit yang menjalar begitu cepap, menghilang begitu cepat juga. DEG! Eh? Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri? Kenapa tiba-tiba aku merasakan takut eoh? “U..um…ummaa~” panggilku pelan, rasanya aku sudah tak dapat bernafas lagi. Dadaku sesak sekali. “Um-ummaa~” BRUGG.. Aku terjatuh karena sudah tak kuat menopang tubuhku sendiri. Mataku sudah berkunang-kunang, aku mencoba mengkedipkan mataku atau memukul kepalaku pelan, namun rasa sakit dan takut itu semakin besar. Pandanganku sudah sangat kabur. Namun aku masih dapat melihat dua bayangan di depanku. Bayangan Minho yang ketakutan, dan bayangan Krystal yang tersenyum sinis ke arahku. Senyum yang sama dengan senyum yang dia berikan kepada adik yang dia tukar dengan dua kardus susu. Senyum itu… Senyum yang kulihat 14tahun yang lalu. Mwo? Andwae! Maldo Andwae! Ada apa denganku? Kenapa sampai aku berpikir kalau dia onnieku? Onnie kejam yang membuangku? Anio. Anio. Anio. Itu tidak mungkin! Batinku lalu menggeleng-gelengkan kepalaku “K-kenapa kau kemari Krystal?!!” tanyaku seketus mungkin.

“Ani, eopseoyo. ‘Raja’ku ingin bertemu dengan ‘Ragu’ yang Agung!” jawabnya sambil menempelkan jari-jari lentiknya di pipi kiriku. Lalu setelah dia melepaskan tangannya, darah segar langsung mengalir dari pipiku. “Wuah~ Wanginya benar-benar nikmat.” serunya lagi sambil menjilati darah di pipiku, aku yang tersentak lalu mendorongnya kuat. Tanpa ku sadari butiran-butiran air menetes dari bagian tubuhnya yang kudorong. Kutatap tanganku yang mulai bersinar layaknya kristal. Aku menatap lama tanganku dan mendongak. Pada saat itulah, pandanganku bertabrakan dengan Minho. Baru ku sadari, dia tidak bergerak selangkahpun. Bahkan ekspresinya sama seperti ekspresi pada saat aku kesakitan tadi. Ada apa dengannya? Aku baru mengangkat tanganku untuk meraihnya saat Krystal menendangku dan memukulku dengan tongkatnya. Kuku-kuku tajam dan terpelihara dari kesepuluh jarinya-pun ikut andil membuat sebuah luka parah di tubuhku. Darah sudah mengucur deras dari semua luka-lukaku tapi aku tidak merasakan kesakitan apapun. Tidak sedikitpun, sama seperti Krystal yang tidak sedikitpun mau berhenti memukuliku kalau Minho tidak berteriak menyuruhnya berhenti. Aku menatap mereka dengan pandangan yang aku sendiri tidak mengerti. Aku mengusap ujung bibirku yang sobek entah akibat tendangan, pukulan, atau cakaran Krystal. Lalu tersenyum miris “Onnie~ Apa kau menyesal telah membuangku?” aku melihat kedua sosok di depanku terkejut. Jangankan mereka, aku sendiri terkejut dengan apa yang ku katakan. Kenapa lidahku bisa selancang ini? Aku terbatuk dan mencoba berdiri, sepertinya tulang rusuk kananku patah, karena aku mulai sesak bernafas lagi.

“Apakah Onnie menyesal? Onniiiiie~~ Jawab aku” aku menggeret kakiku pelan, walau tak ada rasa sakit dalam jiwaku. Sepertinya ragaku benar-benar tak merasakan hal yang serupa. Aku meringis saat kaki kiriku mengenai kaki meja. “Apa kau mau menghabisiku sekarang? Menghabisi Ratu Agung ini? Apa kau tidak takut keselamatanmu terancam? Huh?” Percikan api mulai keluar dari buku-buku jariku, dan sepersekian detik kemudian percikan-percikan itu berubah menjadi kobaran api di tangan kananku, segera mungkin aku mengarahkan api itu ke mukanya. Amarahku telah membuncah! Semua perlakuannya, semua! Semua pasti kubalas! Dia yang memisahkanku dengan orang tuaku! Dia yang membunuh kedua orang tuaku! Dia! Dia! Semua akibatnya! Dan dia harus membayar mahal semua itu!

“Wae? Kau pikir mudah mengalahkanku?” dia mulai terpancing dan mengeluarkan tongkat, yang baru ku sadari juga adalah tulang dari sayap kokoh dan hitam di punggungnya. Jari-jarinya yang runcing itu pula mulai memanjang. Aku mengkonsentrasikan otakku. Aku dapat mengalahkannya. Aku Ratu Agung! Memiliki semua kekuatan yang dimiliki kerajaan di segala arah. Akulah keseimbangan antara kaumku dan kaum manusia. Aku tidak dapat mati. Tapi aku memiliki akal. Aku… Sempurna! Tanpa terasa api sudah berkobar di sekeliling tubuhku. Mataku sudah mengkunci Krystal sebagai sasaran. Aku mengejarnya, terus memojokannya sampai dia berada di antara pintu teras yang terkunci dan kulkas. Aku tersenyum sinis –senyum yang seperti dia berikan tadi. Matanya sudah menatap liar ke segala arah, mencoba mencari jalan keluar tanpa –atau setidaknya terkena api dariku seminimal mungkin. Aku tertawa sangar dengan berjalan perlahan ke arahnya.

“ANDWAEEEE” teriak seorang yeoja sambil memelukku. Tiba-tiba api di sekeliling tubuhku hilang. Begitupula dengan Krystal dan Minho yang sudah lenyap dari hadapanku. Aku mendelik geram kepada yeoja itu dan hampir memakinya sampai aku menyadari dia sudah pingsan dengan mengalami luka bakar yang sangat serius.

Oke. Ini berbahaya!

***

Aku menariknya pelan menuju sofa di ruang tamu, karena tubuhnya cukup berat, tubuhku juga terluka, dan kamarku terlalu jauh dari dapur –tempat dimana aku hampir membalaskan semua dendamku. Saat aku menghempaskan tubuh yeoja itu ke sofa. Aku baru menyadari bahwa dia adalah Jesicca. Yeojachingunya Kibum. Apa dia melihat semua? Aigoo. Bagaimana kalau dia mengatakan ke Kibum? Aigoo… Aigoo… Eottokhe? Aku menatap cemas lagi ke arah yeoja itu, dan menemui sebuah ‘kejanggalan’. Aku rasa tadi aku mengatakan bahwa dia mendapati luka bakar yang ‘sangat serius’ bukan? Tapi mengapa sekarang dia hanya mendapati luka bakar kecil? Maksudku, seharusnya kedua tangan dan wajahnya terbakar. Tapi sekarang hanya tela… Anio! Malah luka itu sudah tidak ada! Sudah lenyap! Aneh sekali?!
Dan.. Aku baru menyadari. Bagaimana mungkin dia bisa memelukku dan hanya mendapat luka bakar? Seharusnya –kalau dia manusia biasa, dia sudah hangus dan menjadi manusia goreng. Aku tahu, panas api tadi pasti diatas 300°Celcius, karena kalau tidak Krystal tidak mungkin setakut itu menghadapiku.

“Uuugh~! Aphaa” ringis yeoja itu membuatku berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang seharusnya dia rasakan. Seandainya dia manusia.

“Gwaenchana?!” tanyaku dingin. Dia mengangguk sambil membenarkan posisi duduknya. “Arasseo. Kalau begitu, nuguya? Apa hubunganmu dengan Krystal dan mengapa kau bisa sembuh dengan sendirinya? Kau mortal atau fey?” tanyaku. Dia terdiam dan memainkan kedua ibu jarinya, aku menepis tangan itu dan berkata “Aku sedang berbicara denganmu.” dia sepertinya tersinggung dan mengerucutkan bibirnya lalu menjawab “Aku Jung Soo Yeon. Krystal onnie. Dan aku mortal dari kerajaan selatan. Aku bisa memelukmu karena aku sudah memakai es ditubuhku, dan aku dapat mengatur organ tubuhku sendiri, makanya aku dapat sembuh dengan cepat!!” Aku menatapnya dengan serius  lalu tertawa. Dia makin mengerucutkan bibirnya ”Dan aku lebih tua darimu, kalau kau mau tau.”

“Ne. Hajiman, kekuasaanku lebih tinggi darimu. So? Haruskah aku memanggilmu ‘onnie’??” ejekku, aku segera berdiri “Kara. Aku sedang ingin sendiri.” dia menatapku bingung “KARA!” kataku lagi sedikit berteriak. Dia terkejut dan segera mengambil tasnya dan pulang. Aku menghela nafas. Bertemu kedua kakakku dalam waktu satu hari. Harus senang atau sedih?

***

~YunJi POV End~
~Minho POV~

Aku menggeram kesal. Sebagian perasaanku marah karena Krystal menyakiti YunJi, sebagian dirinya juga senang atas penderitaan yang YunJi terima. Entah kenapa sekarang otaknya benar-benar tidak bisa di gunakan. Semua selalu terkendali oleh ototnya. Dan itu membuat fisiknya menurun drastis.

“Minho, badanmu panas lagi. Cepat ke kita periksa” kata Key membuyarkan lamunanku, aku hanya menepis tangannya lalu menyoret-nyoretkan huruf di kertas di depanku. Sejenak Key berusaha membaca apa yang kutulis, dan sejenak pula raut wajahnya berubah. “Kau…? Jangan bercanda Minho! Kau tahu itu tidak lucu!” serunya gusar. Aku hanya menautkan kedua alisku dan mencoret-coret kertas di hadapanku. Dia tersentak, lalu membuka mulut –berusaha membantah, namun mungkin dia sudah tidak bisa memikirkan kalimat yang tepat untuk membantah, sehingga yang terdengar hanyalah kalimat pendek dan tajam “Terserah!” sebelum akhirnya dia meninggalkanku sendiri. Aku tersenyum melihatnya, Kim Kibum, kudapatkan kartu AS-mu!

***

“Hyung, kira-kira kita akan kemana?” tanya Taemin kepada Onew. Bisa kulihat tatapannya yang ketakutan. Ini sudah larut malam, malah mungkin bisa dibilang sudah pagi. Tapi Onew hyung dan Jonghyun hyung malah mengajak kami semua keluar dorm. Dan lebih parahnya, tanpa mengajak Manager hyung. Aneh bukan?
“Aku hanya ingin mengajak kalian untuk pergi ke sebuah rumah.” kata Onew hyung sambil tersenyum, kulihat Jonghyun hyung juga tersenyum.

Oke, aku juga ketakutan!

45menit sudah berlalu, akhirnya Jonghyun hyung memberhentikan laju mobilnya. Aku tersentak bangun saat dia menghentikan mobil secara kasar.

“Kita sudah sampai.” katanya sambil tersenyum sinis. Aku membangunkan Taemin dan Key, lalu mengikuti Onew dan Jonghyun hyung turun,

“Villa?” tanya Key dengan suara yang sedikit tercekat. Tak ada jawaban untuk pertanyaannya Key, dia menatapku dengan kedua matanya yang tajam. Aku hanya mengangkat bahu dan menatapnya balik. Dia hanya mendesah. Kulihat dia menggenggam Taemin sangat erat. Sepertinya dia ketakutan juga.

Aku hanya tertawa kecil dan memandang lurus ke depan lagi. Memang agak menyeramkan sih. Karena villa ini besar, dengan pohon jeruk yang mengelilingi sekitar villa ini. Kumpulan pohon dengan daun yang rimbun memang lumayan menyejukkan mata dan pikiran. Tapi, suasana malam hari, sekeliling sepi, dan keadaan rumah yang terkesan kuno cukup membuat bulu kudukku  berdiri remang-remang. Key menarik bajuku dan berbisik

“Kau bisa gendong Taemin? Sepertinya dia benar-benar ketakutan…” bisik Key sambil menarik tanganku. Aku hanya mengangguk lalu mendekati Taemin –dia sedang berjongkok di dekat mobil, aku mengelus punggungnya pelan, mencoba menenangkannya. Lalu menyuruhnya menaikki punggungku.

“Hyung, aku takut.” kata Taemin, aku hanya tersenyum dan berkata ‘Semua baik-baik saja’ walau aku sendiri tidak tahu kami akan baik-baik saja…

“Dimana Key?” tanyaku kepada Jonghyun hyung, dia hanya menunjuk ke arah pintu villa yang memang sedikit terbuka,

“Bersama Onew hyung,” kata Jonghyun kaku sambil berjalan masuk.  Entah mengapa aku mengikutinya tanpa banyak bicara lagi. Taemin makin ketakutan saat kami masuk ke dalam villa. Walau luarnya terlihat kuno dan angker. Dalam villa ini tidak terlalu buruk. Terdapat tiga kamar utama di lantai bawah. Sementara di lantai atas aku tidak tahu  juga. Sepertinya masih ada tiga atau empat kamar lagi.

“Di atas ada 4 kamar. Lalu ada kamar loteng juga. Terserah kalian mau tidur dimana.” seru Jonghyun lalu membuka pintu salah satu kamar

“Chakkamanyeo! Key eodinde?” tanyaku, Jonghyun hanya mematung sesaat lalu dia menunjuk kamar di sebelahnya.

“Mungkin sudah tidur dengan Onew hyung. Lihat lampunya menyala” katanya,  loh? Tadi aku rasa lampunya mati. Apa hanya perasaanku saja ya? “Sudah. Taemin kau tidur dengan siapa?”

“Minho hyung saja.” katanya langsung “Hyung palliwa. Kita tidur di mana?” tanyanya dengan mata sayu.

“Di atas saja.” kataku lagi

***

“Hooooaam… Taemin bangun, sudah pagi.” Aku mengguncang-guncang sesosok yang di sampingku dengan mata yang tetap tertutup “Taeminn~~ Bangun… Kau mandi duluan sanaa~~” seruku lagi, saat menyadari tidak ada respon apapun aku membuka mataku, “TAEMIN!! TAEMIN ODINDEEE~!!!!!!!!!” Aku segera bangkit dari tempat tidur dan berlari ke bawah. “TAEMIN! KEY HYUNG! ONEW HYUNG! JONGHYUN HYUNG!!!” aku terus berlari sampai aku menyadari aku sudah melewati ruangan ini 3 kali.

Apa-apaan ini?

“Mencari seseorang Minho? Atau kupanggil Raja Utara?” ujar sebuah suara, dia?

TBC

FF/REMEMBER/03

Title      : /Remember/03/

Genre   : Apa ajalah suka2

Author  : Song Hae Yoo

Length  : Sequel

Rating : General

 

Main Cast : Han Yun Ji

Kim Kibum

Support Cast : Other SHINee Member

Park Sun Young

E.t.c

A.N : Mian kalo istilah2 disini pasaran. Karena sejujurnya aku tak sanggup *halah, apadeh* sejujurnya, istilah2nya kubrowsing di i-net XPP

 

~~~

“Dari awal, mungkin aku harus menghilangkanmu. Dari awal, dari awal…”

***

~YunJi POV~

Entah mengapa hari ini, Yun Ji bangun sangat pagi. Dia bahkan sempat membeli keperluannya perbulan dan membuat sarapan serta bekalnya nanti.

‘Ada apa ya? Perasaanku tidak enak’ batin Yun Ji, dia menggosong tengkuknya sebentar, tiba-tiba terdengar suara klakson yang membuatnya hampir meloncat.

“Ya!!” teriak YunJi saat mengetahui siapa yang datang

“YunJi annyeeeeeeeoonggg~~! Ayo cepat naik! Palliwaaaa..” Sunyoung sambil melambai-lambaikan tangannya dari jok belakang.

“Ne, nona silahkan naik…” ucap seorang namja sambil menatapnya lekat, seolah-olah ingin menariknya ke dalam sebuah lubang yang gelap

“Yaaaaa~ YunJi-aahh” rengek Sunyoung, yang akhirnya memaksa YunJi untuk masuk ke dalam mobil ‘namja’ itu

=Flash Back=

“Mian, apa aku membawa motor terlalu kencang?” Tanya Minho yang hanya disusul oleh anggukan kepalaku.

“Sangat! Kau tak lihat rambutku berantakan? Uuh…” sungutku sambil menyisir jari –iklan dong ==”-

“Haha… Mian PhilSuk-ah,aku”

“Jangan panggil aku PhilSuk!!” teriakku kesal, namun aku baru ingat kalau itu memang namaku, “m..mak…maksudku, pa..panggil aku..”

Drrttt… Drrtt….

“Yeoboseyo? Ne..? Ah, ne, ne hyung… Arachi.” Minho memasukan handphonenya “Mian PhilSuk, aku harus pulang sekarang.”

“Ah… N..ne, gomawo sudah mengantarku, annyeong …”

=FlashBack Off=

“YunJi??”

“Eh..Ne?” tanyaku gugup karena tertangkap basah lagi oleh Key sedang melamun,

“Kau sudah 3 kali mencuekkanku!” sungutnya “kau kenapa sih?”

“A…aah? Anio, anio… Aku tidak apa-apa” aku menggelengkan kepalaku keras, kulihat ‘namja’ itu menatapku sinis…

Deg! Deg! Deg!

‘Dari awal… Seharusnya aku melenyapkanmu… Dari awal seharusnya aku melakukan itu. Dari awal… Hhhh.. Hhhh’

Deg! Apa itu?
Apa yang kurasakan barusan tadi? Seolah-olah berusaha mencekikku saja… Omo! Haelmonie, bantu aku..! Jebaal!!

“A,a,aku, aku pulang dulu Key”

***

~Author POV~

Setelah ketakutannya kepada ‘namja’ itu, YunJi memutuskan untuk kembali ke rumah ibunya..

Biiiipp Biiippp

“YunJi!! Ireonna…! Temanmu datang…” teriak umma YunJi dari luar, YunJi menggaruk-garuk rambutnya, lalu bangkit berdiri… “Palliwaaa!!

“Ne!!!!!” teriak YunJi kesal, saat dia melewati kamar neneknya

‘Dari awal… Seharusnya aku melenyapkanmu… Dari awal seharusnya aku melakukan itu. Dari awal… Hhhh.. Hhhh’

Deg! Deg! Deg!

YunJi menatap kamar neneknya, rasa takut mulai menyelinap dihatinya lagi.. Dengan ragu YunJi membuka kamar neneknya pelan, dilihatnya amplop warna merah di atas meja yang berisi tumpukan buku-buku lama.

“I go mwoya?” YunJi mengambil buku paling atas, “Uhuk..uhukk… Aish! Kenapa umma tidak pernah membersihkan kamar ini sih!!” sungutnya kesal, dia menghapus debu yang menutupi buku itu, YunJi menyatukan alisnya, ‘buku apa ini?’ YunJi menatap buku itu heran, di depannya tertulis ‘Jangan dibuka!! Sangat berbahaya’

“Sejak kapan nenek menyimpan buku seperti ini?” Tanya YunJi,

“YunJi! Ternyata kau di sini. Itu temanmu datang…” seru umma YunJi tiba-tiba, “eh? Sedang apa kau disini huh?”

“Eh…u..m.maa? Emmm, hanya iseng. Hajiman? Tadi ada temanku kah? Aaah, ayo kita pergi kalau gitu, palli,paliiwaa~” bujuk YunJi

***

~YunJi POV~

Sraakk… Eh? Bunyi apa itu??

“Umma, kau kah itu?” tanyaku sambil berjalan menuju dapur.

‘Dari awal… Seharusnya aku melenyapkanmu… Dari awal seharusnya aku melakukan itu. Dari awal… Hhhh.. Hhhh’ “AAH! Lagi-lagi suara itu!! Siapa kau hah??! Kenapa kau terus menggangguku?!!” teriakku frustasi, aku memandang waswas, tiba-tiba ada sesosok yeoja yang menatapku tajam “Nu…nu..nuguyaa?!” tanyaku ragu, kenapa pandangannya tajam sekali. Membuatku gemetar. Dia tidak menjawab pertanyaanku, melainkan terus berjalan mendekatiku. Aku membelalak saat mengetahui apa yang mengkilat ditangannya, sebuah pisau!

‘Kau ingin tau aku siapa? Apa kau ingin tau? Aku, aku adalah…’ BYUUR

“YunJi!! Ireonna! Kenapa akhir-akhir ini kau sulit sekali dibangunkan huh? Makanya sudah umma bilang jangan membaca sampai larut” Teriak umma sambil membereskan embernya, aku hanya memberenggut sebentar, karena perhatianku kini terarah sepenuhnya kepada buku yang kupegang erat. Bukannya buku ini sudah kutaruh diatas meja? Kenapa masih ada di sini??
“Cepat mandi. Hari ini kau kuliah kan?” seru umma lagi, aku hanya mengangguk dan beranjak dari kasurku.

***
“AAAAAAAAAAAAARGGG!!” teriakku saat menyadari ada sesuatu yang berbeda. Biasanya aku melipat pakaianku di atas kloset, namun sekarang pakaianku didalam westafel dan dalam keadaan basah. “Umma!!!” teriakku, dirumah ini hanya ada appa, umma, dan aku. Appa sudah pergi kerja dari tadi pagi. Berarti hanya tinggal aku dan umma…

“Mwo?” teriaknya dari bawah,

“Kenapa kau menaruh pakaianku di westafel?? Pakaianku basah semuaa!” teriakku kesal,

“Mwo??! Enak saja, aku tidak menyentuh pakaianmu sama sekali!”

“Geotjimal!! Kan hanya kita berdua di…” ucapanku terputus saat melihat bayangan seorang yeoja yang menatapku tajam, yeoja yang ada dalam mimpiku! “n..n…neo?”

“Annyeong YunJi-ah…” serunya serak, “apa kabarmu?” dia tersenyum

“S..siapa kau?!” ujarku memberanikan diri.

“Naega? Aku adalah kau.. Dan kau? Apakah kau adalah aku?”

“Mwo? Apa maksudmu?” apakah yeoja ini gila? Jawaban macam apa itu? “AAAAAAAARGGHHH!!” teriakku saat menyadari dia sudah tepat didepanku dan menancapkan pisau tepat di hatinya.

“Kau harus mengingatku dongsaeng manis…” ucapnya lalu semuanya gelap

~ Author POV~

‘Ummaa~’

‘Ummaaaa~!!’

‘Diam! Kau akan membangunkan YunJi kalau kau terus berteriak! Karaa!’ teriak seorang wanita paruh baya lalu mengusir anak perempuannya keluar, Jung Soo Jung , atau Krystal adalah nama yeoja mungil itu. Matanya yang tajam serta sikapnya yang dingin, membuat warga sekitar memanggilnya demikian, namun dari dalam lubuk hatinya, dia hanyalah seorang yeoja biasa yang ingin bermanja dengan kedua orang tuanya.

‘Appa, lihat ini, ini…’

‘Nanti dulu ya Soojung-ah, appa mau melihat adikmu.’ Seru appanya sambil mengelus kepalanya dan beranjak menuju kamar adik barunya.

‘Onnie~~’

‘Aku mau main!’ seru onnienya ketus, lalu meninggalkannya sendiri. Krystal memberenggut. Dia menatap kertas yang digenggamnya sebentar lalu menyobeknya kecil-kecil

‘Aku benci kau’

-_-_-

‘Aku benci kau!’ seru Krystal geram kepada adiknya yang masih tertidur di dalam pelukannya, padahal kau tidak membawa keberuntungan. Semua orang tau itu, tapi tidak untuk mereka. Mereka selalu sayang padamu, dan akan kubuat mereka tidak sayang padamu’

-_-_-

Ini adalah hari ketiga Krystal berjalan, dan hari ketiga dia memukul adiknya agar berhenti menangis, tadinya Ia ingin membawa adiknya ke panti asuhan di dekat rumahnya, namun Ia takut ayahnya mencari dan menemukannya disana. Akhirnya setelah berpikir panjang, dia membawa adik kecilnya keluar kota.

‘Adik kecil, apa yang terjadi? Kenapa adikmu menangis terus?’ Tanya seorang ibu-ibu, saat melihat Krystal yang kesulitan mengurus adiknya.

‘Aku tidak tahu. Anak kurang ajar ini berisik sekali!’

‘Mungkin dia lapar. Ini aku ada susu kotak untuk kalian berdua…’ seru ibu-ibu itu sambil memberikan susu kotak ke Krystal,

‘Ahjumma, aku titip adik ini sebentar. Aku ingin buang air kecil.’

-_-_-

~ YunJi POV~

Bu…bukannya itu umma? Aku mencoba menyentuh umma, namun nihil. Aku tak dapat menyentuhnya. Aku berusaha menyentuhnya lagi, namun tiba-tiba tempatnya berubah lagi.

Pasti ulah yeoja michi tadi.

-_-_-

PLAAK

‘Kau kemanakan dia? Kau kemanakan adikmu?’ Tanya ibu Krystal saat melihat Krystal dari kejauhan. Sudah 3 hari Krystal pergi dari rumah, dan sudah 3 hari pula adik kecilnya tidak terlihat. Krystal mendongakkan kepalanya, berusaha menatap muka ibunya, dia tersenyum simpul saat melihat kecemasan yang tersirat di wajah ibunya lalu berkata

‘Aku menukarnya dengan dua kardus susu ini…’ serunya polos sambil menunjukkan dua kardus susu cair di tangan mungilnya. Ibunya yang sangat kesal, akhirnya menampar pipi sebelah kanannya

‘Anak kurang ajar! Kau menukar adikmu dengan susu?! Neon micheosseo?!!’

‘Umma! Jangan pukul Soojung! Ia pasti hanya bercanda. Ya kan Soojung?’ Tanya seorang yeoja yang beberapa tahun lebih tua dibanding Krystal, Krystal hanya tersenyum manis lalu berkata

‘Tidak. Aku sengaja’

-_-_-

Aku terbangun dan menyadari bahwa aku masih di kamar mandi. Sh**! Siapa yeoja michi itu? Aku hendak bangkit berdiri saat menyadari sebuah buku usang yang ada digenggamanku. Buku ini?

“YunJi!! Cepat nanti kau terlambat!” sentak umma membuatku terkejut sejenak, akhirnya dengan sedikit perasaan kesal aku bangkit berdiri dan merapikan rambutku, Namun saat aku sedang menatap cermin ada yeoja michi itu tersenyum kepadaku.

“Sebenarnya siapa kau?” tanyaku ragu, “Apa kau Krystal? Yeoja dalam mimpiku tadi?” tanyaku ragu. Dia hanya tersenyum

‘Hampir benar…’ sahutnya ragu lalu tersenyum ‘sedikit lagi…’

***

~Key POV~

“Hyung, memang sebenarnya YunJi kemana?” Tanya Minho, ini sudah ke… Sudah ke… Ahh, mollayeo, yang pasti kesekian kalinya.

“Nan mollayeo Minho… Nan mollayeo Choi-Min-Ho!!” ujarku geram, memang dia pikir aku siapanya YunJi sehingga dia menanyakannya terus kepadaku.

“Key,” panggil Jonghyun mengalihkan kekesalanku kepada Minho, dengan tatapan kesal aku menjawabnya “ada Jesicca mencarimu.”

‘Dari awal, mungkin aku harus menghilangkanmu. Dari awal, dari awal…’ Uugh! Kenapa perasaan itu muncul lagi? Aku menatap Jesicca, yeojachinguku. Sebenarnya kami baru jadian minggu lalu, namun aku sudah bosan dengannya *wah key parah!*

“Key, mau menemaniku hari ini?” Tanya Sicca sedikit parau. Aku menatapnya bingung, dari sorot matanya hanya kesedihan yang terpancar. Dan aku juga baru menyadari dia menggunakan kaos lengan panjang hitam dengan jeans senada. Ada apa dengannya? “aku ingin menemui adikku Key.” Ucapnya tiba-tiba membuatku bergidik, hanya mendengar kata adik, semua ceritanya saat pertama kali kami kenalan seolah berputar kembali di memori otakku.

“Baiklah. Tunggu di sini”

***

Sudah 1 jam aku berdiri di sini, ditemani i-pod-ku yang juga sudah memutar seluruh lagu di album SHINee*kan baru debut, hehehe* dan beberapa lagu Super Junior, Jesicca masih belum kembali.

“Kibum?” panggil sebuah suara. Dan aku tahu itu siapa, karena hanya dia yang memanggilku Kibum

“YunJi, waeyo?” Tanyaku sambil membuka salah satu headseat ku. Dia hanya tersenyum dan menggeleng

“Hanya mengunjungi Krystal…” DEG! Mwo? Meng… mengunjungi siapa katanya?

“Mwo? Nugu?”

“Ah… maksudku aku baru pergi ke makam seseorang, namanya Krystal.” Serunya, astaga! Apa maksudnya ini? Dia… dia mengenal Krys~

“Key? Kau berbicara dengan siapa?” Tanya Sicca dengan suara yang sedikit mindeng *??* dia pasti habis menangis lagi.

“Sicca, ini YunJi. YunJi ini Sicca.” Seruku sedikit kaku. Yeojachinguku bertemu dengan… Eum, cinta pertamaku?

“Eh? Bukankah kau Sooyeon? Jung Sooyeon?” Tanya YunJi cepat, tiba-tiba Jesicca membeku.

“D…da…dari mana?”

“Benar kan? Kau kakaknya Krystal kan?” Tanya YunJi lagi. Sungguh mengejutkan… darimana YunJi tahu semua itu? Aku ingin bertanya darimana YunJi mengetahui itu semua, namun sepertinya Jesicca berkata lain.

“Sooyeon ssi!”

“Sicca-ah!”

Teriakku dan YunJi bersamaan saat tubuh Jesicca lemas dan jatuh ke arah Key *Wew, bisa aja nyari tempat*

***

“Jong, bagaimana ini?” tanyaku namun Jonghyun hanya terseyum.

“Ternyata ramalan nenekku tepat. Ya sudah, Key sebaiknya kau jangan sekali-sekali dekat dengan YunJi atau membuat Jesicca terluka. Kau juga Minho!” serunya kepada Minho yang sedang asik bermain dengan Taemin. Minho hanya mengerutkan dahinya sebagai pertanda tidak mengerti.

“Hyung! Sepertinya kita harus beraksi malam ini.” Seru Jonghyun kepada Onew hyung. Onew hyung hanya menyeringai kecil dan berbisik ‘sudah lama aku tidak bertemu’

Ada apa dengan mereka?

***

~YunJi POV~

Hari ini aku berjalan-jalan ke perpustakaan, kemarin malam aku sudah membuka buku kuno itu, dan ternyata di dalamnya hanya ada tulisan-tulisan yang sudah memudar serta gambar-gambar aneh atau renik-renik tumbuhan.

‘YunJi, kau tau apa yang kumau’

Lagi-lagi suara itu, pasti Krystal… Apa yang dia mau? Aku mengambil tempat yang enak untuk duduk. Akhirnya aku memilih tempat yang paling ujung disebelah kumpulan buku-buku tua, mudah-mudahan tidak ada yang menggangguku.

‘Pada bulan purnama, dilahirkan seorang gadis dengan wajah yang pucat dan badan yang kaku seperti mayat, awalnya orang tua sang anak mengira anaknya sudah tidak ada. Namun tiba-tiba terdengar suara tawa khas bayi yang membuat mereka semua terkejut. Karena takut terjadi apa-apa, mereka memanggil orang pintar yang ada di sana. Ternyata, orang pintar itu berkata bahwa anak itu adalah anak dewa iblis, dan harus segera dimusnahkan dari bumi ini.’ Ini cerita? Tanyaku bingung sambil terus membaca

‘Suatu hari kakak dari ‘anak ini’ mengeluh, katanya anak ini mencakarnya. Sang ibu tidak percaya dan tidak mau percaya. Hingga akhirnya sang kakak marah dan membuang adiknya.’ Astaga! Kenapa aku merasakan de javu dengan cerita ini?

“YunJi, kau di sini…” sahut Sunyoung lalu mengamit tanganku dan berkata “kau membaca apa?”

“Bukan apa-apa, dan bukan urusanmu.” Seru seseorang dengan suara sepertiku. Siapa dia?

“Aigoo~ Aku hanya bertanya” Sunyoung mengerucutkan bibirnya lalu berlalu, ada apa ini? Sunyoung itu bukan aku!!

***

‘ ‘Anak itu’ seorang perempuan, dan dia memiliki sebuah garis tipis berwarna hitam di sebelah nadi kananya. Dia juga mempunyai lingkaran yang berpusat di selikat kirinya dan ‘dia’ memiliki kelebihan tersendiri’ garis hitam? Lingkaran? ‘dia juga bisa sembuh dengan cepat, dan dia akan lebih pintar, lebih cepat dari manusia biasa, bisa dibilang dia sempurna.’ Ok! Aku mulai takut. Dalam cerita ini seperti menggambarkan kisahku. Aku mempunyai garis hitam serta lingkaran itu, Aku juga yah bukannya sombong tapi memang bisa dibilang aku sempurna. Aku orang korea asli, tapi mataku bulat, kulitku putih –sedikit pucat, aku dapat dengan mudah beradaptasi. Dan mudah bergaul kalau aku mau, mungkin sekarang aku sudah menjadi model… Apakah mungkin?

“Tok.. tok”

“YunJi kau masih bangun?” Tanya umma, membuatku tersentak lalu menyembunyikan buku ini,

“Ne umma… Wae?” tanyaku

“Aniyo, ada 2 namja yang mencarimu.” Ah pasti itu Minho dan Key… Mereka sangat cemas saat aku pergi kuliah tadi. Padahal aku cuma 2 hari tidak kuliah, dasar=.=

“Annyeong YunJi-ah” seru sebuah suara mariton membuatku bergidik “kami mengganggu?”

 

 

 

~TBC~